Sunday, December 2, 2012

Teori Self


Dalam menjalani kegiatan sehari-hari, kita jarang sekali berpikir tentang betapa eksistensi keseharian kita tergantung pada banyak gagasan hebat dari orang lain. Apa yang kita anggap sebagai kebutuhan dalam kehidupan modern dimulai dari gagasan seseorang, keingintahuan individu, dan munculnya pertanyaan tentang bagaimana kita bekerja dan bagaimana kita menjadi lebih baik.
Self, dirumuskan sebagai cara individu bereaksi terhadap dirinya sendiri melalui pengalaman individu dengan dunia sebagai eksistensi kita. Teori self ini menjadi teori kepribadian yang dijelaskan melalui sudut pandang humanistik. Dimana dalam teori humanistik menekankan kapasitas seseorang untuk pertumbuhan pribadi, kebebasan untuk memilih takdirnya sendiri, dan berbagai kualitas positif manusia.[1] Para psikolog humanistik meyakini bahwa tiap-tiap kita memiliki kemampuan untuk mengendalikan hidup kita, dan mencapai apa yang kita inginkan.
Teori self dalam pertumbuhannya, terus menerus mendefinisikan dirinya. Banyak tokoh sarjana barat yang merumuskan tentang teori self yang dapat disetujui semua pihak.
Dari uraian di atas, banyaknya sarjana barat yang merumuskan tentang teori self, maka tiap-tiap kita haruslah memiliki kapasitas untuk menerobos dan memahami diri dan dunia kita, kita dapat mengoyakkan kepompong dan menjadi kupu-kupu dengan mempelajari teori self dalam suatu judul “Teori Self Menurut Sarjana Barat”.

B.     Pembahasan
Masalah self disinggung oleh W. James dalam bukunya yang berjudul Princyples of psychology. Dia merumuskan self sebagai keseluruhan kepunyaan seperti badan. Dala perumusan pertama, self diartikan sebagai obyek. Hal ini, self menunjukkan sikap seseorang, perasaan, pengamatan, dan penilaian seseorang terhadap dirinya. Dalam perumusan kedua, self dianggap sebagai proses. Dalam hal ini self terdiri dari sekelompok proses berfikir, mengingat, dan mengamati.  
Rumusan paling terkenal dan paling lengkap tentang teori self adalah yang dikemukakan oleh Carl Rogers. Carl Rogers memulai kariernya sebagai psikoterapis yang mencurahkan tenaga untuk memahami ketidakbahagiaan individu yang ia temui dalam terapi. Karya Rogers yang inovatif memberikan dasar bagi lebih banyak penelitian kontemporer pada harga diri, pertumbuhan pribadi, dan determinasi diri.
Rogers memulai penyelidikannya mengenai hakikat manusia dengan orang-orang yang bermasalah. Di antara para kliennya yang mengalami kecemasan, defentif secara verbal, dan kusutnya permasalahan mereka, Rogers memerhatikan berbagai hal yang kelihatannya mencegah mereka untuk memiliki konsep diri positif dan meraih potensi mereka secara penuh sebagai manusia.
Rogers meyakini bahwa kebanyakan manusia mamiliki banyak kesulitan menerima kebenaran tentang perasaan positif mereka sendiri. Ia menekankan bahwa kita semua dilahirkan dengan kecenderungan bawaan ke arah pertumbuhan dan insting intuitif yang akan mengarahkan kita untuk membuat berbagai pilihan baik.
Menurut pandangannya, kita dilahirkan dengan banyak benih berkualitas baik dalam diri kita. Namun demikian, seiring kita tumbuh dewasa, orang-orang yang signifikan di sekitar kehidupan kita membuat kita menjauh dari perasaan yang tulus. Terlalu sering, kita mendengar orangtua, adik-kakak, guru, dan teman-teman sebaya kita mengatakan hal-hal seperti “jangan lakukan itu,” “kamu tidak melakukannya dengan benar.” Dan “kok kamu dapat sebodoh ini sih?”. Ketika kita melakukan suatu hal yang salah, kita seringkali dihukum. Para orangtua bahkan dapat mengancam untuk menolak memberikan kasih sayang mereka, kecuali kita menyesuaikan diri dengan standar mereka yang Rogers sebut sebagai kondisi kepatutan. Seperti dalam buku The Psychology of Being Human mengatakan “ one source of disorder in rogerian self-theory is the child’s attempt to become what others want him to be rather than what he really wants to be.”[2] Jadi kita dapat membenci diri kita yang sebenarnya demi citra ideal berupa menjadi orang yang “seharusnya”.
Diri (Self) Melalui pengalaman individu dengan dunia, diri muncul “saya” atau “aku” sebagai eksistensi kita. Rogers tidak memercayai bahwa segala aspek diri disadari, tetapi ia meyakini semuanya dapat diakses ke kesadaran. Diri merupakan suatu keseluruhan, terdiri atas persepsi diri seseorang (seberapa menarik saya, seberapa baik saya bergaul dengan orang lain, seberapa baiknya saya menjadi) dan nilai-nilai yang kita lekatkan pada persepsi tersebut (baik/buruk, berharga/tidak berharga).
Konsep diri (self-concept), merupakan tema sentral dalam pandangan Rogers. Yaitu keseluruhan persepsi dan penilaian individu mengenai kemampuan, prilaku, dan kepribadiannya. Dalam pandangan Rogers, seseorang yang memiliki konsep diri tidak akurat cenderung tidak dapat menyesuaikan diri.
Dalam membahas mengenai konsep diri, Rogers membedakan antara diri sebenarnya (real self), yaitu diri yang berasal dari pengalaman kita, dan diri ideal (ideal self), yaitu diri yang ingin kita capai. Semakin besar selisih perbedaan antara diri sebenarnya dan diri ideal, kondisi yang Rogers sebut ketidakselarasan (incongruence), semakin ia tidak dapat menyesuaikan diri. Untuk meningkatkan penyesuaian dan menjadi selaras, kita dapat mengembangkan lebih banyak persepsi positif pada diri sebenarnya, tidak terlalu khawatir mengenai apa yang orang lain inginkan, dan meningkatkan pengalaman positif kita dalam dunia.
Jadi, konsep diri adalah gagasan tentang diri sendiri yang mencakup keyakinan, pandangan, dan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri. Konsep diri terdiri atas bagaimana cara kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana yang kita harapkan. Semakin baik atau positif konsep diri seseorang maka akan semakin mudah ia mencapai keberhasilan. Sebab, dengan konsep diri yang baik/positif, seseorang akan bersikap optimis, berani mencoba hal-hal baru, berani sukses dan berani pula gagal, penuh percaya diri, bersikap dan berpikir secara positif. Sebaliknya, semakin jelek atau negative konsep diri, maka akan semakin sulit seseorang untuk berhasil. Sebab, dengan konsep diri yang jelek/negatif akan mengakibatkan tumbuh rasa tidak percaya diri, takut gagal sehingga tidak berani mencoba hal-hal yang baru dan menantang, merasa diri bodoh, rendah diri, merasa diri tidak berguna, pesimis, serta berbagai perasaan dan prilaku inferior lainnya.
Penghargaan positif tanpa syarat, empati, dan ketulusan. Rogers mengajukan tiga metode untuk membantu seseorang mengembangkan konsep diri yang lebih positif. Penghargaan positif tanpa syarat, empati, dan ketulusan.
Rogers mengatakan bahwa karena orang-orang, terlepas dari apa yang mereka lakukan, butuh diterima oleh orang lain, kita harus menerimanya tanpa syarat. Penghargaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard) adalah istilah dari Rogers untuk penerimaan, penghargaan, dan menjadi positif terhadap orang lain tanpa memedulikan perilaku seseorang. Ketika perilaku seseorang tidak pantas, menjengkelkan atau tidak dapat diterima, orang tersebut tetap memerlukan rasa hormat, kenyamanan, dan cinta dari orang lain (Assor, Roth, & Deci, 2004).
Rogers sangat meyakini bahwa penghargaan positif tanpa syarat mengangkat harga diri (self-esteem) seseorang. Jadi, harga diri adalah evaluasi terhadap dirinya sendiri secara positif atau negative. Evaluasi individu tersebut terlihat dari penghargaan yang ia berikan terhadap eksistensi dan keberartian dirinya. Individu yang memiliki harga diri positif akan menerima dan menghargai dirinya sendiri sebagaimana adanya serta tidak cepat-cepat menyalahkan dirinya atas kekurangan atau ketidaksempurnaan dirinya. Ia selalu merasa puas dan bangga dengan hasil karyanya sendiri dan selalu percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan. Sebaliknya, individu yang memiliki harga diri negative merasa dirinya tidak berguna, tidak berharga, dan selalu menyalahkan dirinya atas ketidaksempurnaandirinya. Ia cenderung tidak percaya diri dalam melakukan setiap tugas dan tidak yakin dengan ide-ide yang dimilikinya.
Rogers juga mengatakan bahwa kita dapat membantu orang lain mengembangkan konsep diri yang lebih positif jika kita empati dan tulus. Menjadi empati berarti menjadi seorang pendengar yang sensitive dan memahami perasaan orang lain yang sebenarnya. Menjadi tulus berarti terbuka dengan perasaan kita dan menghilangkan kepura-puraan dan kepalsuan.
Menurut Rogers, penghargaan positif tanpa syarat, empati, dan ketulusan merupakan tiga ramuan penting dalam hubungan antarmanusia yang sehat. Kita dapat menggunakan teknik-teknik tersebut untuk membantu orang lain merasa lebih baik mengenai dirinya sendiri danmembantu kita untuk bergaul lebih baik dengan orang lain.
Tokoh berikutnya yaitu Abraham Maslow, pendekatan Maslow pada motivasi yang mengembangkan motivasi sebagai hirarki kebutuhan. Adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah motivasi untuk mengembangkan potensi penuh seseorang sebagai manusia. Maslow menggambarkan orang yang teraktualisasi dirinya sebagai orang yang spontan, kreatif, dan memiliki kapasitas yang polos untuk menjadi mengagumkan. Menurut Maslow, seseorang pada tingkat eksistensi optimal ini akan toleran terhadap orang lain, memiliki rasa humor yang halus, dan cenderung mengejar kebaikan yang lebih besar. Orang yang teraktualisasi dirinya juga memelihara kapasitas untuk momen-momen berwawasan spiritual yang memesona.

C.    Penutup
Teori self yang paling lengkap dirumuskan oleh tokoh sarjana barat yaitu Carl Rogers.
Teori self, merupakan teori cara kita memersepsikan diri kita dan dunia di sekitar kita yang menjadi unsur kunci dalam kepribadian.  Menekankan kapasitas diri untuk pertumbuhan pribadi, kebebasan untuk memilih takdir sendiri, dan berbagai kualitas positif diri. Tiap-tiap diri memiliki kemampuan untuk mengkonsep diri, mengaktualisasi diri, mengendalikan diri, dan mencapai apa yang kita inginkan untuk memahami diri dan dunia kita.
Jadi, dengan teori self, terdapat dimensi pengetahuan yang memberi penjelasan dari “siapa saya” yang akan memberi gambaran diri kita. Dimensi harapan, yaitu kita memiliki sejumlah pandangan diri yang dicita-citakan di masa depan. Dan dimensi penilaian kita terhadap diri kita sendiri yang memiliki rasa menyayangi diri sendiri dan harga diri yang tinggi.



D.    Daftar Rujukan
B. Meneil, Elton.1974.The Psycology of Being Human.London:Canfield Press

A.King, Laura.2010.Psycologi Umum Sebuah Pandangan Apresiatif.Jakarta:Salemba Humanika

Pasaribu dan Simandjuktak.1984.Teori Kepribadian.Bandung:Tarsito

Desmita.2009.Psikologi Perkembangan Peserta Didik.Bandung:Remaja Rosdakarya


[1] A.King Laura,Psikologi Umum (Jakarta,2010), hlm.135.
[2] B. Meneil. Elton,The Psychology of Being Human, (London,1974), hlm.101.

No comments: