Dalam menjalani kegiatan
sehari-hari, kita jarang sekali berpikir tentang betapa eksistensi keseharian
kita tergantung pada banyak gagasan hebat dari orang lain. Apa yang kita anggap
sebagai kebutuhan dalam kehidupan modern dimulai dari gagasan seseorang,
keingintahuan individu, dan munculnya pertanyaan tentang bagaimana kita bekerja
dan bagaimana kita menjadi lebih baik.
Self, dirumuskan sebagai cara
individu bereaksi terhadap dirinya sendiri melalui pengalaman individu dengan
dunia sebagai eksistensi kita. Teori self ini menjadi teori kepribadian yang
dijelaskan melalui sudut pandang humanistik. Dimana dalam teori humanistik
menekankan kapasitas seseorang untuk pertumbuhan pribadi, kebebasan untuk
memilih takdirnya sendiri, dan berbagai kualitas positif manusia.[1]
Para psikolog humanistik meyakini bahwa tiap-tiap kita memiliki kemampuan untuk
mengendalikan hidup kita, dan mencapai apa yang kita inginkan.
Teori self dalam pertumbuhannya,
terus menerus mendefinisikan dirinya. Banyak tokoh sarjana barat yang
merumuskan tentang teori self yang dapat disetujui semua pihak.
Dari uraian di atas, banyaknya
sarjana barat yang merumuskan tentang teori self, maka tiap-tiap kita haruslah
memiliki kapasitas untuk menerobos dan memahami diri dan dunia kita, kita dapat
mengoyakkan kepompong dan menjadi kupu-kupu dengan mempelajari teori self dalam
suatu judul “Teori Self Menurut Sarjana Barat”.
B.
Pembahasan
Masalah self disinggung oleh W.
James dalam bukunya yang berjudul Princyples of psychology. Dia merumuskan
self sebagai keseluruhan kepunyaan seperti badan. Dala perumusan pertama, self
diartikan sebagai obyek. Hal ini, self menunjukkan sikap seseorang, perasaan,
pengamatan, dan penilaian seseorang terhadap dirinya. Dalam perumusan kedua,
self dianggap sebagai proses. Dalam hal ini self terdiri dari sekelompok proses
berfikir, mengingat, dan mengamati.
Rumusan paling terkenal dan paling
lengkap tentang teori self adalah yang dikemukakan oleh Carl Rogers.
Carl Rogers memulai kariernya sebagai psikoterapis yang mencurahkan tenaga
untuk memahami ketidakbahagiaan individu yang ia temui dalam terapi. Karya
Rogers yang inovatif memberikan dasar bagi lebih banyak penelitian kontemporer
pada harga diri, pertumbuhan pribadi, dan determinasi diri.
Rogers memulai penyelidikannya
mengenai hakikat manusia dengan orang-orang yang bermasalah. Di antara para
kliennya yang mengalami kecemasan, defentif secara verbal, dan kusutnya
permasalahan mereka, Rogers memerhatikan berbagai hal yang kelihatannya
mencegah mereka untuk memiliki konsep diri positif dan meraih potensi mereka
secara penuh sebagai manusia.
Rogers meyakini bahwa kebanyakan
manusia mamiliki banyak kesulitan menerima kebenaran tentang perasaan positif
mereka sendiri. Ia menekankan bahwa kita semua dilahirkan dengan kecenderungan
bawaan ke arah pertumbuhan dan insting intuitif yang akan mengarahkan kita
untuk membuat berbagai pilihan baik.
Menurut pandangannya, kita
dilahirkan dengan banyak benih berkualitas baik dalam diri kita. Namun
demikian, seiring kita tumbuh dewasa, orang-orang yang signifikan di sekitar
kehidupan kita membuat kita menjauh dari perasaan yang tulus. Terlalu sering,
kita mendengar orangtua, adik-kakak, guru, dan teman-teman sebaya kita
mengatakan hal-hal seperti “jangan lakukan itu,” “kamu tidak melakukannya
dengan benar.” Dan “kok kamu dapat sebodoh ini sih?”. Ketika kita melakukan
suatu hal yang salah, kita seringkali dihukum. Para orangtua bahkan dapat
mengancam untuk menolak memberikan kasih sayang mereka, kecuali kita
menyesuaikan diri dengan standar mereka yang Rogers sebut sebagai kondisi
kepatutan. Seperti dalam buku The Psychology of Being Human mengatakan “
one source of disorder in rogerian self-theory is the child’s attempt to become
what others want him to be rather than what he really wants to be.”[2]
Jadi kita dapat membenci diri kita yang sebenarnya demi citra ideal berupa
menjadi orang yang “seharusnya”.
Diri (Self) Melalui pengalaman individu dengan dunia, diri muncul “saya” atau
“aku” sebagai eksistensi kita. Rogers tidak memercayai bahwa segala aspek diri
disadari, tetapi ia meyakini semuanya dapat diakses ke kesadaran. Diri
merupakan suatu keseluruhan, terdiri atas persepsi diri seseorang (seberapa
menarik saya, seberapa baik saya bergaul dengan orang lain, seberapa baiknya
saya menjadi) dan nilai-nilai yang kita lekatkan pada persepsi tersebut
(baik/buruk, berharga/tidak berharga).
Konsep diri (self-concept), merupakan tema sentral dalam pandangan Rogers. Yaitu keseluruhan
persepsi dan penilaian individu mengenai kemampuan, prilaku, dan
kepribadiannya. Dalam pandangan Rogers, seseorang yang memiliki konsep diri
tidak akurat cenderung tidak dapat menyesuaikan diri.
Dalam membahas mengenai konsep diri,
Rogers membedakan antara diri sebenarnya (real self), yaitu diri yang
berasal dari pengalaman kita, dan diri ideal (ideal self), yaitu diri
yang ingin kita capai. Semakin besar selisih perbedaan antara diri sebenarnya dan
diri ideal, kondisi yang Rogers sebut ketidakselarasan (incongruence),
semakin ia tidak dapat menyesuaikan diri. Untuk meningkatkan penyesuaian dan
menjadi selaras, kita dapat mengembangkan lebih banyak persepsi positif pada
diri sebenarnya, tidak terlalu khawatir mengenai apa yang orang lain inginkan,
dan meningkatkan pengalaman positif kita dalam dunia.
Jadi, konsep diri adalah gagasan
tentang diri sendiri yang mencakup keyakinan, pandangan, dan penilaian
seseorang terhadap dirinya sendiri. Konsep diri terdiri atas bagaimana cara
kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri
sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia
sebagaimana yang kita harapkan. Semakin baik atau positif konsep diri seseorang
maka akan semakin mudah ia mencapai keberhasilan. Sebab, dengan konsep diri
yang baik/positif, seseorang akan bersikap optimis, berani mencoba hal-hal
baru, berani sukses dan berani pula gagal, penuh percaya diri, bersikap dan
berpikir secara positif. Sebaliknya, semakin jelek atau negative konsep diri,
maka akan semakin sulit seseorang untuk berhasil. Sebab, dengan konsep diri
yang jelek/negatif akan mengakibatkan tumbuh rasa tidak percaya diri, takut
gagal sehingga tidak berani mencoba hal-hal yang baru dan menantang, merasa
diri bodoh, rendah diri, merasa diri tidak berguna, pesimis, serta berbagai
perasaan dan prilaku inferior lainnya.
Penghargaan positif tanpa syarat,
empati, dan ketulusan. Rogers
mengajukan tiga metode untuk membantu seseorang mengembangkan konsep diri yang
lebih positif. Penghargaan positif tanpa syarat, empati, dan ketulusan.
Rogers mengatakan bahwa karena
orang-orang, terlepas dari apa yang mereka lakukan, butuh diterima oleh orang
lain, kita harus menerimanya tanpa syarat. Penghargaan positif tanpa syarat
(unconditional positive regard) adalah istilah dari Rogers untuk
penerimaan, penghargaan, dan menjadi positif terhadap orang lain tanpa
memedulikan perilaku seseorang. Ketika perilaku seseorang tidak pantas,
menjengkelkan atau tidak dapat diterima, orang tersebut tetap memerlukan rasa
hormat, kenyamanan, dan cinta dari orang lain (Assor, Roth, & Deci, 2004).
Rogers sangat meyakini bahwa
penghargaan positif tanpa syarat mengangkat harga diri (self-esteem)
seseorang. Jadi, harga diri adalah evaluasi terhadap dirinya sendiri secara
positif atau negative. Evaluasi individu tersebut terlihat dari penghargaan
yang ia berikan terhadap eksistensi dan keberartian dirinya. Individu yang
memiliki harga diri positif akan menerima dan menghargai dirinya sendiri
sebagaimana adanya serta tidak cepat-cepat menyalahkan dirinya atas kekurangan
atau ketidaksempurnaan dirinya. Ia selalu merasa puas dan bangga dengan hasil
karyanya sendiri dan selalu percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan.
Sebaliknya, individu yang memiliki harga diri negative merasa dirinya tidak
berguna, tidak berharga, dan selalu menyalahkan dirinya atas
ketidaksempurnaandirinya. Ia cenderung tidak percaya diri dalam melakukan
setiap tugas dan tidak yakin dengan ide-ide yang dimilikinya.
Rogers juga mengatakan bahwa kita
dapat membantu orang lain mengembangkan konsep diri yang lebih positif jika
kita empati dan tulus. Menjadi empati berarti menjadi seorang
pendengar yang sensitive dan memahami perasaan orang lain yang sebenarnya.
Menjadi tulus berarti terbuka dengan perasaan kita dan menghilangkan
kepura-puraan dan kepalsuan.
Menurut Rogers, penghargaan positif
tanpa syarat, empati, dan ketulusan merupakan tiga ramuan penting dalam
hubungan antarmanusia yang sehat. Kita dapat menggunakan teknik-teknik tersebut
untuk membantu orang lain merasa lebih baik mengenai dirinya sendiri
danmembantu kita untuk bergaul lebih baik dengan orang lain.
Tokoh berikutnya yaitu Abraham Maslow,
pendekatan Maslow pada motivasi yang mengembangkan motivasi sebagai hirarki
kebutuhan. Adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah
motivasi untuk mengembangkan potensi penuh seseorang sebagai manusia. Maslow
menggambarkan orang yang teraktualisasi dirinya sebagai orang yang spontan,
kreatif, dan memiliki kapasitas yang polos untuk menjadi mengagumkan. Menurut
Maslow, seseorang pada tingkat eksistensi optimal ini akan toleran terhadap
orang lain, memiliki rasa humor yang halus, dan cenderung mengejar kebaikan
yang lebih besar. Orang yang teraktualisasi dirinya juga memelihara kapasitas
untuk momen-momen berwawasan spiritual yang memesona.
C.
Penutup
Teori self yang paling lengkap
dirumuskan oleh tokoh sarjana barat yaitu Carl Rogers.
Teori self, merupakan teori cara
kita memersepsikan diri kita dan dunia di sekitar kita yang menjadi unsur kunci
dalam kepribadian. Menekankan kapasitas
diri untuk pertumbuhan pribadi, kebebasan untuk memilih takdir sendiri, dan berbagai
kualitas positif diri. Tiap-tiap diri memiliki kemampuan untuk mengkonsep diri,
mengaktualisasi diri, mengendalikan diri, dan mencapai apa yang kita inginkan
untuk memahami diri dan dunia kita.
Jadi, dengan teori self, terdapat
dimensi pengetahuan yang memberi penjelasan dari “siapa saya” yang akan memberi
gambaran diri kita. Dimensi harapan, yaitu kita memiliki sejumlah pandangan
diri yang dicita-citakan di masa depan. Dan dimensi penilaian kita terhadap
diri kita sendiri yang memiliki rasa menyayangi diri sendiri dan harga diri
yang tinggi.
D.
Daftar Rujukan
B. Meneil, Elton.1974.The
Psycology of Being Human.London:Canfield Press
A.King, Laura.2010.Psycologi Umum
Sebuah Pandangan Apresiatif.Jakarta:Salemba Humanika
Pasaribu dan Simandjuktak.1984.Teori
Kepribadian.Bandung:Tarsito
Desmita.2009.Psikologi
Perkembangan Peserta Didik.Bandung:Remaja Rosdakarya
No comments:
Post a Comment