Teori-teori belajar bermunculan seiring dengan
perkembangan teori psikologi. Salah satu diantara teori belajar yang terkenal adalah
teori belajar behavioristik dengan tokohnya B.F. Skinner, Thorndike, Watson dan
lain-lain. Dikatakan bahwa, teori-teori belajar hasil eksperimen mereka secara
prinsipal bersifat behavioristik dalam arti lebih menekankan timbulnya perilaku
jasmaniah yang nyata dan dapat diukur.
Namun seiring dengan kemajuan zaman dan
perkembangan ilmu pengetahuan, teori tersebut mempunyai beberapa kelemahan,
yang menuntut adanya pemikiran teori belajar yang baru. Dikatakan bahwa,
teori-teori behavioristik itu bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan
stimulus dan respon, sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot,
padahal setiap manusia memiliki kemampuan mengarahkan diri (self-direction)
dan pengendalian diri (self control) yang bersifat kognitif, dan
karenanya ia bisa menolak respon jika ia tidak menghendaki, misalnya karena
lelah atau berlawanan dengan kata hati, dan proses belajar manusia yang
dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat
mencoloknya perbedaan karakter fisik dan psikis antara manusia dan hewan. Hal
ini dapat diidentifikasi sebagai kelemahan dari teori belajar behavioristik.
Dari kelemahan-kelemahan yang terdapat
dalam teori belajar behavioristik dapat diambil suatu pertanyaan, “Upaya apa
yang akan dilakukan oleh para ahli psikologi pendidikan dalam
mengatasi kelemahan teori tersebut ?’’Realitas ini sangat penting untuk
dibahas dalam penulisan makalah ini.
Untuk itu pembahasan makalah ini
diangkat untuk mengungkap masalah-masalah tersebut. Berdasarkan tulisan-tulisan
dalam berbagai literatur, ditemukan bahwa para ahli telah menemukan teori baru
tentang belajar yaitu teori belajar kognitif yang lebih mampu meyakinkan dan
menyumbangkan pemikiran besar demi perkembangan dan kemajuan proses belajar
sebagai lanjutan dari teori belajar behavioristik tersebut.
Dari uraian di atas, maka penulis ingin
memaparkan dan membeberkan seluk beluk aliran kognitif dan paham tentang teori
belajar dalan suatu makalah dengan judul “Teori Belajar Kognitif “.
A.
PENGERTIAN BELAJAR MENURUT TEORI KOGNITIVISTIK
Teori belajar kognitif berbeda dengan teori belajar behavioristik.
Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil
belajarnya. Para penganut aliran kognitif mengatakan bahwa belajar tidak
sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Tidak seperti model
belajar behavioristik yang mempelajari proses belajar hanya sebagai hubungan
stimulus-respon, model belajar kognitif merupakan suatu bentuk teori belajar
yangs erring disebut sebagai model perceptual. Model belajar kognitif mengatakan
bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya
tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Belajar merupakan
perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai
tingkah laku yang Nampak.
Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses intern,
aktifitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Proses belajar
terjadi antara lain mencakup pengaturan stimulus yang diterima dan
menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terbentuk di
dalam pikiran seseorang berdasarkan pemahaman dan pengalaman-pengalaman
sebelumnya.
Dalam praktek pembelajaran, teori kognitif antara lain tampak dalam
rumusan-rumusan seperti: “Tahap-tahap perkembangan” yang dikemukakan oleh J.
Peaget, Advance organizer oleh Ausubel, Pemahaman konsep oleh Bruner,
dan sebagainya.
B.
TEORI PERKEMBANGAN PIAGET
Piaget adalah seorang tokoh psikologi kognitif yang besar
pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran para pakar kognitif lainnya. Menurut
Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetic, yaitu suatu
proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf.
Dengan makin bertambahnya umur seseorang, maka makin komolekslah pesusunan sel
syarafnya dan meningkat pula kemampuannya. Ketika individu berkembang menuju
kedewasaan, akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan
menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif di dalam struktur
kognitifnya. Piaget tidak melihat perkembangan kognitif sebagai sesuatu yang
dapat didefinisikan secara kuantitatif. Ia menyimpulkan bahwa daya pikir atau
kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.
Terdapat empat asumsi Piaget tentang
perkembangan kognitif pada anak, diantaranya:
1.
Anak
adalah pembelajar yang aktif.
Piaget meyakini bahwa anak tidak hanya mengobservasi dan mengingat apa-apa yang
mereka lihat dan dengar secara pasif. Sebaliknya, mereka secara natural
memiliki rasa ingin tahu tentang dunia mereka dan secara aktif berusaha mencari
informasi untuk membantu pemahaman dan kesadarannya tentang realitas dunia yang
mereka hadapi itu. Dalam memahami dunia mereka secara aktif, anak-anak
menggunakan apa yang disebut oleh Piaget dengan “schema”, yaitu konsep
atau karangka yang ada dalam pikiran anak yang digunakan untuk
mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. Contohnya, gerakan reflex
menghisap pada bayi, ada gerakan otot pada pipi dan bibir yang menimbulkan
gerakan menghisap.
2.
Anak
mengorganisasi apa yang mereka pelajari dari pengalamannya. Anak-anak tidak hanya mengumpulkan apa-apa yang mereka pelajari
dari fakta-fakta yang terpisah menjadi satu kesatuan. Tapi mereka dapat
mengorganisasi apa yang mereka pelajari dari pengalamannya. Contohnya, ketika
mereka berintegrasi dengan binatang-binaatang, mengunjungi kebun binatang,
me;lihat gambar binatang di buku, maka mereka dapat mengklasifikasi dan
mengembangkan pemahaman yang kompleks tentang binatang-binatang.
3.
Anak
menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika seorang anak memasukkan pengetahuan baru
ke dalam pengetahuan yang sudah ada. Sedangkan akomodasi terjadi ketika anak
menyesuaikan diri pada informasi baru. Contohnya, seorang bayi menghisap
payudara atau botol susu, akanmelakukan tindakan yang sama (menghisap) pada
objek yang baru. Objek ini memperlihatkan proses asimilasi. Sedangkan bayi
melakukan tindakan yang sama terhadap objek yang lain, yaitu menghisap. Ini
berarti bahwa bayi telah mengubah putting susu ibu menjadi objek yang lain.
Tindkan demikian disebut akomodasi.
4.
Proses
ekuilibrasi menunjukkan adanya peningkatan ke arah bentuk-bentuk pemikiran yang
lebih kompleks. Agar seseorang
dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuannya sekaligus menjaga
stabilitas mental dalam dirinya, maka diperlukan proses penyeimbangan. Proses
penyeimbangan yaitu menyeimbangkan antara lingkungan luar dengan struktur
kognitif yang ada dalam dirinya. Proses inilah yang disebut ekuilibrasi.
Menurut Piaget,
proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangan
sesuai dengan umurnya. Piaget membagi
tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat, yaitu:
a.
Tahap
sensorimotor. Usia 0 – 2
tahun
Bayi
bertindak dari tindakan reflex instinktif pada saat lahir sampai permulaan pemikiran
simbolis. Bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia melalui pengoordinasian
pengalaman-pengalaman sensor dengan tindakan fisik.
b.
Tahap
preoperasional. Usia 2 – 7
tahun
anak
ulai mempresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Kata-kata dang
ambar-gambar ini menunjukkan adanya peningkatan pemikiran simbolis dan
melampaui hubungan informasi indrawi dan tindakan fisik.
c.
Tahap
operasional konkret. Usia 7 – 11
tahun
Pada
saat ini akan dapat berpikir secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang
konkret dan mengklasifikasikan benda-benda ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda.
d.
Tahap
operasional formal. Usia 11 tahun –
dewasa
Remaja berpikir
dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan lebih idealistic.
Secara umum,
semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang, akan semakin teratur dan
semakin abstrak cara berpikirnya. Guru seharusnya memahami tahap-tahap
perkembangan kognitif pada muridnya agar dalam merancang dan melaksanakan
pembelajaran, sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa.
C.
TEORI BELAJAR MENURUT BRUNER
Dalam
memandang proses belajar, Bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap
tingkahlaku seseorang. Dengan teorinya yang disebut free discovery learning
ia mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika
guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori,
aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.
Menurut
Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang
ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu:
1.
Tahap
enaktif, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk memahami
lingkungan sekitarnya. Misalnya, dengan gigitan, sentuhan, pegangan, dan
sebagainya.
2.
Tahap
ikonik, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan
visualisasi verbal. Belajar melalui perumpamaan (tampil) dan perbandingan
(komparasi).
3.
Tahap
simbolik, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak
yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika.
Demikian juga model pemahaman konsep dari Bruner, menjelaskan bahwa
pembentukan konsep dan pemahaman konsep merupakan dua kegiatan mengkategori
yang berbeda yang menuntut proses berpikir yang berbeda pula. Dalam pemahaman
konsep, konsep-konsep sudah ada sebelumnya. Sedangkan dalam pembentukan konsep
adalah sebaliknya, yaitu tindakan untuk embentuk kategori-kategori baru. Jadi
merupakan tindakan penemuan konsep. Langkah pertama adalah pembentukan konsep,
keudian baru pemahaman konsep.
D.
TEORI BELAJAR BERMAKNA AUSUBEL
Teori belajar yang banyakmenekankan menghafal tidak banyak bermakna
bagi siswa. Belajar seharusnya mengasimilasikan dan dihubungkan dengan
pengetahuan yangtelah dimiliki siswa dalam bentuk struktur kognitif.
Struktur kognitif adalah struktur organisasional yang ada dalam
ingatan seseorang yang mengintegrasikan unsure-unsur pengetahuan yang
terpisah-pisah ke dalam suatu unit konseptual.
Dikatakan bahwa pengetahuan diorganisasi dalam ingatan seseorang
dalam struktur hirarkhis. Artinya bahwa pengetahuan yang lebih umum dan abstrak
yang diperoleh memudahkan memperoleh pengetahuan yang lebih spesifik dan
konkret. Gagasannya mengurutkan materi pelajaran dari umum ke khusus disebut
sebagai subsumptive sequence menjadikan belajar lebih bermakna bagi
siswa.
Advance organizers
yang juga dikembangkan oleh Ausubel merupakan pernyataan umum yang memperkenalkan
bagian-bagian utama yang tercakup dalam urutan pengajaran. Advance organizer
berfungsi untuk menghubungkan gagasan yang disajikan di dalam pelajaran dengan
informasi yang telah berda di dalam pikiran siswa, dan memberikan skema
organisasional terhadap informasi yang spesifik.
E.
IMPLIKASI TEORI KOGNITIF DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar
amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa. Sedangkan kegiatan
pembelajarannya mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.
Siswa
bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya. Mereka mengalami
perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu.
2.
Anak
usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik,
terutama jika menggunakan benda-benda konkret.
3.
Keterlibatan
siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena hanya dengan
mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan
pengalaman dapat terjadi dengan baik.
4.
Untuk
menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu meningkatkan pengalaman
atau informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.
5.
Pemahaman
dan retensi akan meningkat jika materi pe;ajaran disusun dengan menggunakan
pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks.
6.
Belajar
memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal. Agar bermakna,
informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah
dimiliki siswa. Tugas guru adalah menunjukkan hubungan apa yang sedang
dipelajari dengan apa yang telah diketahui siswa.
7.
Adanya
perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor ini
sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Perbedaan tersebut misalnya
pada motivasi, persepsi, kemapuan berpikir, pengetahuan awal, dan sebagainya.
Ketiga tokoh
aliran kognitif di atas secara umum memiliki pandangan yang sama yaitu
mementingkan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar. Menurut piaget,
hanya dengan mengaktifkan siswa secara optimal maka proses asimilasi dan
akomodasi pengetahuan dan pengalamana dapat terjadi dengan baik. Sementara itu,
Bruner lebih banyak memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sendiri
melalui aktivitas menemukan (discovery). Cara demikian akan mengarahkan siswa
pada bentuk belajar induktif, yang menuntut banyak dilakukan pengulangan. Hal
ini tercermin dari model kurikulum spiral (mengurutkan pengajaran) yang
dikemukakannya. Berbeda dengan Bruner, Ausubel lebih mementingkan struktur
disiplin ilmu. Dalam proses belajar lebih banyak menekankan pada cara berfikir
deduktif. Hal ini tapak dari konsepsinya mengenai advance organizer sebagai
kerangka konseptual tentang isi pelajaran yang akan dipelajari siswa.
DAFTAR
RUJUKAN
DR. Budiningsih, Asri.2004.Belajar
Dan Pembelajaran.Yogyakarta:PT Rineka Cipta
Dra. Desmita.2009.Psikologi
Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Drs. Suryabrata, Sumadi.2004.Psikologi Pendidikan.2004.Yogyakarta:PT
Rajagrafindo Persada
No comments:
Post a Comment