Sunday, December 2, 2012

Teori Belajar Kognitifistik


Teori-teori belajar bermunculan seiring dengan perkembangan teori psikologi. Salah satu diantara teori belajar yang terkenal adalah teori belajar behavioristik dengan tokohnya B.F. Skinner, Thorndike, Watson dan lain-lain. Dikatakan bahwa, teori-teori belajar hasil eksperimen mereka secara prinsipal bersifat behavioristik dalam arti lebih menekankan timbulnya perilaku jasmaniah yang nyata dan dapat diukur.
Namun seiring dengan kemajuan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan, teori tersebut mempunyai beberapa kelemahan, yang menuntut adanya pemikiran teori belajar yang baru. Dikatakan bahwa, teori-teori behavioristik itu bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon, sehingga terkesan seperti  kinerja mesin atau robot, padahal setiap manusia memiliki kemampuan mengarahkan diri (self-direction) dan pengendalian diri (self control) yang bersifat kognitif, dan karenanya ia bisa menolak respon jika ia tidak menghendaki, misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati, dan proses belajar manusia yang dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat mencoloknya perbedaan karakter fisik dan psikis antara manusia dan hewan. Hal ini dapat diidentifikasi sebagai kelemahan dari teori belajar behavioristik.
Dari kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam teori belajar behavioristik dapat diambil suatu pertanyaan, “Upaya apa yang akan dilakukan oleh  para ahli psikologi pendidikan dalam  mengatasi kelemahan teori tersebut ?’’Realitas ini sangat penting untuk dibahas dalam penulisan makalah ini.
Untuk itu pembahasan makalah ini diangkat untuk mengungkap masalah-masalah tersebut. Berdasarkan tulisan-tulisan dalam berbagai literatur, ditemukan bahwa para ahli telah menemukan teori baru tentang belajar yaitu teori belajar kognitif yang lebih mampu meyakinkan dan menyumbangkan pemikiran besar demi perkembangan dan kemajuan proses belajar sebagai  lanjutan dari teori belajar behavioristik tersebut.
Dari uraian di atas, maka penulis ingin memaparkan dan membeberkan seluk beluk aliran kognitif dan paham tentang teori belajar dalan suatu makalah dengan judul “Teori Belajar Kognitif “.
A.    PENGERTIAN BELAJAR MENURUT TEORI KOGNITIVISTIK
Teori belajar kognitif berbeda dengan teori belajar behavioristik. Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya. Para penganut aliran kognitif mengatakan bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Tidak seperti model belajar behavioristik yang mempelajari proses belajar hanya sebagai hubungan stimulus-respon, model belajar kognitif merupakan suatu bentuk teori belajar yangs erring disebut sebagai model perceptual. Model belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang Nampak.
Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses intern, aktifitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Proses belajar terjadi antara lain mencakup pengaturan stimulus yang diterima dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pemahaman dan pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Dalam praktek pembelajaran, teori kognitif antara lain tampak dalam rumusan-rumusan seperti: “Tahap-tahap perkembangan” yang dikemukakan oleh J. Peaget, Advance organizer oleh Ausubel, Pemahaman konsep oleh Bruner, dan sebagainya.
B.     TEORI PERKEMBANGAN PIAGET
Piaget adalah seorang tokoh psikologi kognitif yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran para pakar kognitif lainnya. Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetic, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Dengan makin bertambahnya umur seseorang, maka makin komolekslah pesusunan sel syarafnya dan meningkat pula kemampuannya. Ketika individu berkembang menuju kedewasaan, akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif di dalam struktur kognitifnya. Piaget tidak melihat perkembangan kognitif sebagai sesuatu yang dapat didefinisikan secara kuantitatif. Ia menyimpulkan bahwa daya pikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.
 Terdapat empat asumsi Piaget tentang perkembangan kognitif pada anak, diantaranya:
1.      Anak adalah pembelajar yang aktif. Piaget meyakini bahwa anak tidak hanya mengobservasi dan mengingat apa-apa yang mereka lihat dan dengar secara pasif. Sebaliknya, mereka secara natural memiliki rasa ingin tahu tentang dunia mereka dan secara aktif berusaha mencari informasi untuk membantu pemahaman dan kesadarannya tentang realitas dunia yang mereka hadapi itu. Dalam memahami dunia mereka secara aktif, anak-anak menggunakan apa yang disebut oleh Piaget dengan “schema”, yaitu konsep atau karangka yang ada dalam pikiran anak yang digunakan untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. Contohnya, gerakan reflex menghisap pada bayi, ada gerakan otot pada pipi dan bibir yang menimbulkan gerakan menghisap.
2.      Anak mengorganisasi apa yang mereka pelajari dari pengalamannya. Anak-anak tidak hanya mengumpulkan apa-apa yang mereka pelajari dari fakta-fakta yang terpisah menjadi satu kesatuan. Tapi mereka dapat mengorganisasi apa yang mereka pelajari dari pengalamannya. Contohnya, ketika mereka berintegrasi dengan binatang-binaatang, mengunjungi kebun binatang, me;lihat gambar binatang di buku, maka mereka dapat mengklasifikasi dan mengembangkan pemahaman yang kompleks tentang binatang-binatang.
3.      Anak menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika seorang anak memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada. Sedangkan akomodasi terjadi ketika anak menyesuaikan diri pada informasi baru. Contohnya, seorang bayi menghisap payudara atau botol susu, akanmelakukan tindakan yang sama (menghisap) pada objek yang baru. Objek ini memperlihatkan proses asimilasi. Sedangkan bayi melakukan tindakan yang sama terhadap objek yang lain, yaitu menghisap. Ini berarti bahwa bayi telah mengubah putting susu ibu menjadi objek yang lain. Tindkan demikian disebut akomodasi.
4.      Proses ekuilibrasi menunjukkan adanya peningkatan ke arah bentuk-bentuk pemikiran yang lebih kompleks. Agar seseorang dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuannya sekaligus menjaga stabilitas mental dalam dirinya, maka diperlukan proses penyeimbangan. Proses penyeimbangan yaitu menyeimbangkan antara lingkungan luar dengan struktur kognitif yang ada dalam dirinya. Proses inilah yang disebut ekuilibrasi.
Menurut Piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangan sesuai dengan umurnya. Piaget  membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat, yaitu:
a.       Tahap sensorimotor. Usia 0 – 2 tahun
Bayi bertindak dari tindakan reflex instinktif pada saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis. Bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia melalui pengoordinasian pengalaman-pengalaman sensor dengan tindakan fisik.
b.      Tahap preoperasional. Usia 2 – 7 tahun
anak ulai mempresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Kata-kata dang ambar-gambar ini menunjukkan adanya peningkatan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi indrawi dan tindakan fisik.
c.       Tahap operasional konkret. Usia 7 – 11 tahun
Pada saat ini akan dapat berpikir secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang konkret dan mengklasifikasikan benda-benda ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda.
d.      Tahap operasional formal. Usia 11 tahun – dewasa
Remaja berpikir dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan lebih idealistic.
Secara umum, semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang, akan semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya. Guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif pada muridnya agar dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran, sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa.
C.    TEORI BELAJAR MENURUT BRUNER
Dalam memandang proses belajar, Bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkahlaku seseorang. Dengan teorinya yang disebut free discovery learning ia mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.
Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu:
1.      Tahap enaktif, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk memahami lingkungan sekitarnya. Misalnya, dengan gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya.
2.      Tahap ikonik, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Belajar melalui perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi).
3.      Tahap simbolik, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika.
Demikian juga model pemahaman konsep dari Bruner, menjelaskan bahwa pembentukan konsep dan pemahaman konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berpikir yang berbeda pula. Dalam pemahaman konsep, konsep-konsep sudah ada sebelumnya. Sedangkan dalam pembentukan konsep adalah sebaliknya, yaitu tindakan untuk embentuk kategori-kategori baru. Jadi merupakan tindakan penemuan konsep. Langkah pertama adalah pembentukan konsep, keudian baru pemahaman konsep.
D.    TEORI BELAJAR BERMAKNA AUSUBEL
Teori belajar yang banyakmenekankan menghafal tidak banyak bermakna bagi siswa. Belajar seharusnya mengasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yangtelah dimiliki siswa dalam bentuk struktur kognitif.
Struktur kognitif adalah struktur organisasional yang ada dalam ingatan seseorang yang mengintegrasikan unsure-unsur pengetahuan yang terpisah-pisah ke dalam suatu unit konseptual.
Dikatakan bahwa pengetahuan diorganisasi dalam ingatan seseorang dalam struktur hirarkhis. Artinya bahwa pengetahuan yang lebih umum dan abstrak yang diperoleh memudahkan memperoleh pengetahuan yang lebih spesifik dan konkret. Gagasannya mengurutkan materi pelajaran dari umum ke khusus disebut sebagai subsumptive sequence menjadikan belajar lebih bermakna bagi siswa.
Advance organizers yang juga dikembangkan oleh Ausubel merupakan pernyataan umum yang memperkenalkan bagian-bagian utama yang tercakup dalam urutan pengajaran. Advance organizer berfungsi untuk menghubungkan gagasan yang disajikan di dalam pelajaran dengan informasi yang telah berda di dalam pikiran siswa, dan memberikan skema organisasional terhadap informasi yang spesifik.
E.     IMPLIKASI TEORI KOGNITIF DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa. Sedangkan kegiatan pembelajarannya mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.      Siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu.
2.      Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik, terutama jika menggunakan benda-benda konkret.
3.      Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena hanya dengan mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.
4.      Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu meningkatkan pengalaman atau informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.
5.      Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi pe;ajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks.
6.      Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal. Agar bermakna, informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Tugas guru adalah menunjukkan hubungan apa yang sedang dipelajari dengan apa yang telah diketahui siswa.
7.      Adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Perbedaan tersebut misalnya pada motivasi, persepsi, kemapuan berpikir, pengetahuan awal, dan sebagainya.
Ketiga tokoh aliran kognitif di atas secara umum memiliki pandangan yang sama yaitu mementingkan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar. Menurut piaget, hanya dengan mengaktifkan siswa secara optimal maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalamana dapat terjadi dengan baik. Sementara itu, Bruner lebih banyak memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sendiri melalui aktivitas menemukan (discovery). Cara demikian akan mengarahkan siswa pada bentuk belajar induktif, yang menuntut banyak dilakukan pengulangan. Hal ini tercermin dari model kurikulum spiral (mengurutkan pengajaran) yang dikemukakannya. Berbeda dengan Bruner, Ausubel lebih mementingkan struktur disiplin ilmu. Dalam proses belajar lebih banyak menekankan pada cara berfikir deduktif. Hal ini tapak dari konsepsinya mengenai advance organizer sebagai kerangka konseptual tentang isi pelajaran yang akan dipelajari siswa.
DAFTAR RUJUKAN
            DR. Budiningsih, Asri.2004.Belajar Dan Pembelajaran.Yogyakarta:PT Rineka Cipta
            Dra. Desmita.2009.Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Drs. Suryabrata, Sumadi.2004.Psikologi Pendidikan.2004.Yogyakarta:PT Rajagrafindo Persada

No comments: