Entah mengapa, di Indonesia banyak
berkembang aliran dan paham yang sesat lagi menyesatkan. Mungkin karena faktor
historis yang pernah lekat dengan dunia perklenikan, atau karena pernah dijajah
Belanda sekian abad lamanya sehingga meninggalkan jejak kebodohan yang tak
kunjung hilang, atau mungkin karena faktor lain yang belum terdeteksi. Yang
jelas, hal tersebut membuat rakyat Indonesia banyak yang tidak mau menggunakan
akal sehatnya dalam menghadapi berbagai masalah dan lebih suka jalan pintas.
Dengan kondisi masyarakat seperti
ini, tumbuh suburlah berbagai paham dan aliran sesat, dari yang berskala lokal
hingga internasional. Dan satu hal yang hampir pasti, kebanyakan dari mereka
atau bahkan semuanya memakai label yang berbau keislaman.
Sebutlah misalnya, ada aliran Isa
Bugis yang menganggap umat Islam sekarang masih dalam periode Makkah. Ada
Inkarus sunnah yang tidak mengakui hadits Nabi. Ada Lembaga Kerasulan (LK) yang
menganggap bahwa imam mereka adalah rasul saat ini. Ada juga Darul Arqom yang
menganggap pemimpin mereka sebagai imam mahdi dan memperoleh wahyu melalui
mimpi-mimpi. Ada Ahmadiyah yang menganggap Mirza Ghulam orang Islam di luar
kelompok mereka sebagai najis dan kafir. Dan ada pula agama “salamullah” made
in Lia Aminuddin, yang mengaku awam agama namun mendapatkan wahyu dari
Malaikat Jibril! Padahal yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim adalah
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah dan Muhammad
adalah utusan Allah.[1]:
menjadikan tujuan pokoknya dengan mentauhidkan Allah dalam beribadah kepada-Nya
serta tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, lalu taat pada Rasul-Nya,
mengikuti apa saja yang ia ketahui darinya, juga harus mengetahui bahwa makhluk
yang paling utama setelah para nabi adalah para sahabat. Dari sini jelaslah
bahwa ajaran-ajaran di atas bertentangan dengan ini.
Selain aliran-aliran ada pula
paham-paham seperti yang mendakwah sebagai Islam liberal yang menyamaratakan
semua agama juga meramaikan bursa kelompok sesat di Tanah Air. Baha’i merupakan
salah satu bentuk aliran dan paham sesat yang sampai ada di Indonesia, di mana
banyak orang yang tidak tahu apa itu Baha’i. maka disinilah pentingnya
penelitian radikal tentang baha’i. Dari uraian di atas, maka penulis ingin
memaparkan dan membeberkan seluk-beluk aliran dan paham sesat di Indonesia khusus
pada Agama Baha’i dengan judul “Agama Baha’i di Indonesia”.
B.
Pembahasan
Baha’i, Aliran Sesat Sempalan Syi’ah
Baha’iyah atau
baha’isme ini menyatukan atau menggabungkan agama-agama: Yahudi, Nasrani, Islam
dan lainnya menjadi satu. Hingga aliran ini jelas-jelas dinyatakan sebagai non
islam.
Prof. Dr. M. Abu
Zuhroh, ulama Mesir dalam bukunya Tarikh Al-Madzaahibil Islamiyyah fis
Siyaasah wal ‘Aqoid menjelaskan secara rinci penyimpangan dan kesesatan
Baha’iyah, dan ia nyatakan sebagai aliran bukan Islam, berasal dari Syi’ah
Itsna ‘Asyariyah (Syi’ah Imamiyah yang kini berkembang di Iran).
Pendiri aliran
Baha’i ini adalah Mirza Ali Muhammad Asy-Syairazi lahir di Iran 1252 H/1820 M.
Ia mengumumkan, tidak percaya pada hari kiamat, surga dan neraka setelah hisab/perhitungan.
Dia menyerukan bahwa dirinya adalah potret dari nabi-nabi terdahulu. Tuhan pun
menyatu dalam dirinya (hulul). Risalah Muhammad bukan risalah terakhir.
Huruf-huruf dan angka-angka mempunyai tuah terutama angka 19. Perempuan
mendapat hak yang sama dalam menerima harta waris. Ini berarti dia mengingkari
hukum al-Qur’an, padahal mengingkari Al-Qur’an berarti kufur.
Mirza Ali dibunuh
pemerintah Iran tahun 1850, umur 30 tahun. Sebelum mati, Mirza memilih dua
muridnya, Sybyh Azal dan Baha’ullah ke Turki. Pengikut Baha’ullah lebih banyak,
hingga disebut Baha’iyah atau Baha’isme, dan kadang masih disebut aliran
Babiyah, nama yang dipilih pendirinya, Mieza Ali.
Kemudian kedua
tokoh itu bertikai, maka diusir ari Turki. Baha’ullah diusir ke Akka Palestina.
Di sana ia memasukkan unsure syirik dan menentang Al-Qur’an dengan mengarang Al-Kitab
Al-AAqdas diakui sebagai dari wahyu, mengajak ke agama baru, bukan Islam.
Baha’ullah menganggap agamanya universal, semua agama dan ras bersatu di
dalamnya.
Ajaran Baha’ullah
1.
Menghilangkan
setiap ikatan Agama Islam, menganggap syariat telah kadaluarsa. Maka aliran ini
tidak ada kaitan dengan Islam. Persamaan antara manusia meskipun berlainan
jenis, warna kulit dan agama. Ini inti ajarannya.
2.
Mengubah
peraturan rumah tangga dengan menolak ketentuan-ketebtuan islam. Melarang
poligami kecuali bila ada kekecualian. Poligami ini pun tidak diperbolehkan
lebih dari dua istri. Melarang talak kecuali terpaksa yang tidak memungkinkan
antara kedua pasangan untuk bergaul lagi. Seorang istri yang ditalak tidak
perlu iddah (waktu penantian). Janda itu bisa langsung kawin lagi.
3.
Tidak
ada sholat jama’ah, yang ada hanya sholat jenazah bersama-sama. Sholat hanya
dikerjakan sendiri-sendiri.
4.
Ka’bah
bukanlah kiblat yang diakui oleh mereka. Kiblat menurut mereka adalah tempat
Baha’ullah tinggal. Karena selama Tuhan menyatu dalam dirinya, maka di situlah
kiblat berada. Ini sama dengan pandangan sufi (orang tasawuf) sesat bahwa qolbul
mukmin baitullah, hati mukmin itu baitullah.
Berpusat di Chicago
Masa Baha’ullah
berakhir dengan meninggalnya dirinya pada 16 Mei 1892, dilanjutkan anaknya,
Abbas Efendy yang bergelar Abdul Baha’ atau Ghunun A’dham (cabang agung). Abbas
menguasai budaya Barat. Hingga Abbas cenderung menggunakan kitab-kitab agama
Yahudi dan Nasrani.
Abu Zuhrah
menegaskan, “Jika guru pertama (Mirza Ali) padaaliran ini sudah melangkah dalam
penghancuran ajaran Islam dengan mengatasnamakan pembaharuan, lalu penerusnya
(Baha’ullah) menyempurnakannya dengan mengingkari semua ajaran islam serta
menyingkirkannya, dan penerus berikutnya (Abbas Baha’) melangkah lebih jauh
dari itu. Dia bahkan mengambil kitab-kitab Yahudi dan Nasrani untuk mengganti
Al-Qur’an.”
Baha’iyah
berkembang di Eropa dan Amerika berpusan di Chicago. Aliran ini dinilai Abu
Zuhrah sebagai ajaran yang diada-adakan belaka. Mereka menggunakan topeng taqiyah,
yaitu cara mengelabui manusia dengan menyembunyikan alirannya, padahal yang
terselubung di dalam hatinys adalah usaha untuk mendangkalkan akidah Islam dan
menghancurkan ajaran-ajarannya dan menjauhkan dari pemeluknya.
Yang pasti, lanjut
Abu Zahrah, aliran Baha’iyah mempunyai kegiatan pesat di wilayah kaum muslimin
di kalamereka diberi kebebasan oleh musuh-musuh Islam, yaitu penjajah. Maka
Baha’iyah semakin kuat setelah terjadi Perang Dunia I dan Perang Dunia II.
Baha’iyah sekarang
sedang mengangkat kepalanya, namun tetap harus ditumpas atau dikembsliksn ke
daerah pusat kegiatannya, Chicago.”
Persoalan di Indonesia
Tokoh Baha’i
(aliran sempalan Syi’ah Imamiyah di luar Islam), KS 68 tahun, meninggal dunia
di Bandung, Senin 2 Syawal 1417 H/10 Februari 1997 M. Meninggalnya tokoh aliran
Baha’isme (Baha’iyah) yang di Indonesia telah dilarang sejak 1962 ini
menjadikan pemandangan yang tampak unik. Para pelayat yang hadir di sana enjadi
dua kubu, menurut penuturan salah seorang yang hadir melayat saat itu. Kubu
islam dan kubu Baha’i ada di dalam keluarga mayat itu.
Mayat yang masuk
Baha’i tahun 1957 di Hongkong ini diupacarai secara Baha’i. kepala mayat itu
ditolehkan ke kanan. Namun kemudian diputar paksa, diluruskan, oleh salah satu
keluarganya yang bukan Baha’i. kepala mayat itu diputar paksa diluruskan hingga
berbunyi “krek’.
Meskipun demikian,
para pelayat yang sebagian dari pengikut Baha’i, orang-orang Iran, tampak
menyembahyangi mayat ini. Sembahyang mayat itu dengan cara duduk di depan mayat
sambil mengangkat-angkat tangan. Dan para pelayat/penta’ziyah yang Baha’i
mengatakan, mayat ini mau dikubur di kuburan Islam, Kristen atau lainnya sama
saja, boleh-boleh saja.
Mayat ini, menurut
sumber tertentu, adalah ketua Baha’i di Indonesia, bahkan tingkat Asia
Tenggara. Dia dulunya seorang diplomat yang bertugas di antaranya di Hongkong,
dan ia masuk Baha’i di sana tahun 1957. Sedang Bha’i itu masuk di Indonesia
sejak tahun 1953. Menurut Ensiklopedia Umum, Baha’isme dilarang di Indonesia
tahun1962 karena ada segi-segi kegiatan mereka yang dianggap tidaksesuai dengan
kepribadian Indonesia serta menghambat penyelesaian Revolusi Indonesia.
Sumber yang hadir
dalam upacara mayat tokoh Baha’i di Bandung itu menyebutkan, mayat ini punya
hubungan erat dengan seorang tokoh “serem” terkemuka (LBM) non muslim yang
dikenal sangat anti Islam, yang pada masa sebelum tahun 1990-an sangat berperan
dalam menekan dan menyengsarakan umat Islam dengan berbagai kebijakannya. Dan
pengaruhnya masih terasa sampai kini walau menduduki suatu jabatan lagi.
Acara-acara tokoh Baha’i ini sering dihadiri tokoh non muslim tersebut.
Baha’i dan Israel
Baha’ullah,
pemimpin Baha’i (internasional) mati tahun 1892, kuburannya di Israel, tepatnya
di Akka. Ia mengaku memiliki kitab suci yang diberi nama Al-Aqdas (yang
lebih suci). Kepercayaan yang diajarkannya adalah sinkretisme. Kaum Baha’i
percaya Al-Bab (sama dengan Baha’ullah) adalah pencipta segala sesuatu dengan
kata-katanya. Dalam Baha’i dikenal konsep wahdatul wujud, menyatunya
manusia dengan Tuhannya (itu sama dengan kepercayaan sufi sesat yang ditokohi
oleh Ibnu Arabi, pen). Mereka juga mempercayai reinkarnasi, keabadian alam
semesta. Budha, Konghucu, Zoroaster dan agama lain dianggap sebagai jalan
kebenaran. Mereka menakwilkan Al-Qur’an dengan makna batin. Mereka percaya
bahwa wahyu akan turun terus Mani dan pertemuannya dengan Islam, Kristen dan Yahudi.
Secara organisasi,
Baha’i berpusat di Haifa, Israel. Baha’i tersebar di 235 negara melalui Baha’i
International Community (BIC) yang sejak 1970 memperoleh status resmi
sebagai badan penasehat Dewan PBB dalam bidang Sosial Ekonomi (Ecosoc) dan Unicef.
Ajaran Baha’i ini
masuk ke Indonesia sekitar tahun 1878 (sebelum matinya dedengkot Baha’I,
Baha’ullah di Israel 1892) melalui Sulawesi yang dibawa dua orang pedagang:
Jamal Effend dan Mustafa Rumi. Melihat namanya tentu berasal dari Persia dan
Turki. Ia berkunjung ke Batavia, Surabaya dan Bali.
Baha’i dilarang di
Indonesia sejak 15 Agustus 1962. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan
Presiden No.264/Tahun 1962 yang berisikan pelarangan tujuh organisasi tersebut
termasuk Baha’i. kata-kata dibawah surat Keppres tersebut menjelaskan bahwa
ajaran dan organisasi-organisasi tersebut termasuk Liga Demokrasi dan Rotary
Club, dilarang karena “tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia, penyelesaian
revolusi, atau bertentangan dengan cita-cita sosialisme Indonesia”.
Baha’i, dengan
ajaran internasional yakni pusat organisasinya di Israel, sedang pusat
kegiatannya di Chicago Amerika, maka imbasnya terhadap para antek Israel tampak
nyata pula di Indonesia. Hingga di Indonesia, ada pula alumni Chicago bersama
antek-anteknya yang berani mengumandangkan bahwa lelaki muslim menikahi
wanita-wanita non muslim, baik itu Hindu, Budha maupun sinto adalah sah. Alasan
doktor dari Chicago itu, karena larangan menikahi musyrikat (wanita musyrik,
menyekutukan Allah dengan lain-Nya) dalam Al-Qur’an itu hanya musyrikat Arab.
Imbas ajaran
zionis Yahudi. Itu kini ditambah lagi bukti dengan kenyataan bahwa aliran
Baha’i memang pusat kegiatannya di Chicago sedang pusat organisasinya di
Israel, dan kemudian terbukalah misteri jaringannya ketika tokoh utamanya di
Indonesia mati di Bandung, usai Iedul Fitri 1417 H/1997 M.
Itulah salah satu
keberhasilan dari liciknya sistem zionis yang memelihara Baha’i dan aneka
aliran yang mempecundangi Islam.
Kembali kepada
persoalan awal, pemahaman Baha’i yang sangat rancu dan merusak Islam, sampai
menerapkan kitab Yahudi dan Nasrani untuk mengganti Al-Qur’an pun ditempuh,
ternyata di sini ada pula orang-orang yang sepaham dengan itu, yang caranya adalah
mengganti hukum dari ayat-ayat dan hadits-hadits dengan pendapatnya sendiri.
Walhasil, zionis
plus Baha’i yang jelas-jelas di masa Soekarno dan Soeharto terlarang di
Indonesia, ternyata ada oknum-oknumnya yang secara ideologis sangat
mendukungnya. Itulah sebenarnya yang perlu diwaspadai, karena senantiasa akan
menghancurkan Islam lewat lembaga dan pemikiran mereka.
Di samping itu,
ada dedengkot yang suka berpikiran nyleneh (aneh-aneh) yang mengadakan upacara
do’a bersama antar agama di rumahnya di Ciganjur Jakarta. (tentang haramnya
do’a bersama antar agama, agama itu diuraikan ini dalam bab Ruwatan dan do’a
bersama antar agama,dalam buku Tasawuf Pluralisme dan Pemurtadan). pada acara
do’a bersama antar agama itu muncul pula orang-orang Baha’i di rumah Gus Dur
dedengkot nyltneh itu, dan berdialog pula. Dan itu menurut Djohan Efendi (dulu
ketua Badan Penelitian dan Pengebangan Agama Departemen Agama, kemudian masa
pemerintahan Gus Dur diangkat sebagai sekretaris Negara) sering dilakukan
dialog antara orang Baha’i dengan Gus Dur di rumahnya di Ciganjur Jakarta waktu
belum jadi presiden.
Apa yang
dikemukakan Djohan itu merupakan salah satu bukti “kecintaan” Gus Dur kepada
kepercayaan yang bertentangan dengan Islam. Dan bentuk “kecintaannya” itu
dipraktekkan dengan menggunakan aneka cara, lebih-lebih ketia ia memegang
kekuasaan. Maka, begitu Gus Dur memegang kepemimpinan nasional sejak Agustus
1999, dia baru-baru meresmikan kepercayaan kemusyrikan yang menyembah tepekong,
yaitu Konghucu dan tidak lupa pula meresmikan Baha’i yang dekat dengan misi
zionis itu di Bandung.
Di Balik Itu Semua Ada Uniknya
Konon, begitu
aliran Baha’i (sempalan Syi’ah yang mengacak-acak Islam) itu telah diresmikan
Gus Dur waktu ia jadi Presiden, maka hari berikutnya muncul pernyataan resmi
dari NU (Nahdlatul Ulama) daerah Bandung yang menolaknya. Demikianlah, itu
menandakan bahwa mereka berani menentang diresmikannya salah satu tempat yang
menjadi sumber penghancuran Islam. Tindakan semacam itu insya Allah akan tetap
terjadi, bila pihak penguasa justru menghidup-hidupkan aliran yang merusak
Islam.
Anehnya lagi,
ketika pemerintah Indonesia dipegang oleh Soekarno yang diteruskan Soeharto,
saat itu aliran Baha’i yang memang merancukan akidah itu memang dilarang. Ini
sesuai denganaspirasi umat Islam, mayoritas penduduk negeri ini, walau tujuan
pelarangan oleh Soekarno itu bukan karena membela Islam. Sebaliknya, ketika
pemerintahan dipegang oleh Gus Dur, seorang yang disebut Kyai Haji, malahan dia
resmikan Baha’i (paham sempalan Syi’ah yang sesat), yang mengacak-acak Islam
dan pro zionis Yahudi itu. Islam menegaskan untuk berjihad menghadapi
kepercayaan batil yang tak sesuai dengan Islam, sedang Gus Dur berada di
barisan depan secara bersebarangan dengan perintah Islam itu.
Apa kerugian
Islam? Kerugiannya, sebagian orang terutama para muqallid buta di belakang Kyai
itu menganggap, tingkah Kyai yang meresmikan Baha’i itu sesuai dengan Islam,
dan menyakiti, namun dianggap kalau mengikuti dan membelanya justru akan
mendapatkan tiket surga. Sedangkan orang yang ingin berjuang menegakkan Islam
justru dianggap perlu dilawan.
Membekali Akal dengan Ilmu yang Benar-
-yang Benar itu Jelas dan yang Sesat itu Jelas
Setelah berlalunya
zaman, dan hilangnya sebaik-baik masa; tersebarlah berbagai macam bid’ah, yaitu
setiap keyakinan, amalan atau lafadz yang diada-adakan setelah wafatnya Nabi
Saw dengan niat untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, padahal
tidak ada dalil yang menunjukkannya baik dari kitab Sunnah maupun dari
perbuatan para pendahulu (yang sholih), serta semakin banyak jenisnya. Maka
terjadilah apa yang dikabarkan dan diperingatkan oleh Rasulullah Saw:
افترقت
اليهودإلى إحدى وسبعين فرقة,وافترقت النصلرى إلى اثنتين وسبعين فرقة,وستفترق أمتي
إلاى ثلاث وسبعين فرقة,كلها في النار إلاواحدةقالوا: من هي يارسول الله؟ قا ل: من
كان على ما أنا عليه وأصحابي
“Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, kaum Nashrani
terpecah menjadi 72 golongan sedangkan umatku akan terpecah menjadi 73
golongan. Semuanya berada di neraka kecuali hanya satu golongan”. Mereka (para
sahabat) bertanya: siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah? Beliau
menjawab: “orang yang mengikuti aku dan para sahabatku”. Dalam lafadh yang
lain: “golongan yang satu tersebut adalah Jama’ah (ahlussunnah wal jama’ah)”.[2]
Para Imam Islam
menafsirkan hadits tersebut seperti Bukhari dan imam-iman lainnya bahwa yang
dimaksud dengan golongan yang selamat dan golongan yang ditolong adalah mereka
ahli hadits dan yang dekat dengan manhaj mereka.
Itu semua terjadi,
karena mereka telah mengisi akal mereka dengan ilmu yang tidak benar, sehingga
menghasilkan pemahaman yang tidak benar. Untuk mampu menghindarkan diri dari
kesesatan, maka satu jalan yang perlu ditempuh adalah mengisi akal dengan ilmu
yang benar, yaitu berdasarkan wahyu. dan cara berfikir yang benar, yaitu
memasrahkan akal dihadapan wahyu. Menuntut ilmu agama, khususnya ilmu tentang
apa-apa yang jadi kewajiban sebagai hamba Allah adalah fardhu’ain. Setiap orang
harus mengetahui kewajiban-kewajibannya dengan benar.
Fudhail bin Iyadh
berkata, “Sesungguhnya amal yang dikerjakan dengan ikhlas tetapi tidak benar
itu tidak akan diterima, begitu juga jika amal itu benar namun tidak ikhlas
(juga tidak diterima). Ikhlas hendaklah amal itu hanya untuk Allah, dan benar
hendaknya tegak berdasarkan sunnah.”
Amal yang tidak
sesuai dengan sunnah, baik itu karena penyelewengan maupun karena kebodohan,
maka tidak diterima. Sebab nabi Muhammad Saw bersabda,
من عمل عملا ليس عليه امرنافهورد (مسلم)
“Barang siapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada perintah
kami atasnya, maka amalnya tertolak” (HR. Muslim)
Orang yang beramal
tanpa ilmu dan orang yang berilmu tetapi nyeleweng adalah dua golongan yang
sangat merepotkan. Sulit diaturnya, dan menjadikan lelahnya orang yang mau
meluruskannya.
Lebih jelas lagi
bahwa mengetahui atau memahami ilmu agama itu sangat penting untuk terhindar
dari kesesatan, bid’ah, khurafat, takhayul dan syirik adalah sabda nabi
Muhammad Saw,
من يردالله به خيرايفقهه في الدين
“Barang siapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Allah
pahamkan dia dalam ilmu agama.” (HR. Al-Bukhari)
Kebaikan di situ
berarti lawan dari keburukan. Sedang keburukan yang merusak agama di antaranya
adalah kesesatan-kesesatan. Dan kesesatan itulah yang diberantas oleh ilmu
dien, karena ilmu dien adalah warisan para nabi. Sehingga para pemilik ilmu
dien, yaitu ulama adalah pewaris para nabi. Keutamaan ulama itu dijelaskan oleh
nabi,
فضل العالم على
العا بدكفضل القمرعل النجوم العلماء ورثه الأنبياء, والأنبياء لم يورثوا دينا را
ولا درهما وانما ورثوا العلم فمن أخذه أخذبحظ وافر (الترمذي)
“Keutamaan seorang alim (berilmu agama) atas seorang ‘abid (ahli
ibadah) seperti keutamaan rembulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya ulama itu
pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun
dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu (agama), maka barang siapa mengambilnya
maka dia telah mengambil keuntungan yang banyak.” (HR. At-Tirmidzi)
Sebaliknya, kalu manusia sudah mengangkat orang-orang yang
jahil/bodoh sebagai pemimpinnya, maka yang terjai adalah sesat menyesatkan.
Karena masalah sesat dan tidaknya satu keyakinan itu sifatnya bukan murni
keputusan akal, bahwa sebenarnya akal itu hanya perlu pasrah kepada dalil nash
(ayat Al-Qur’an dan hadits nabi Muhammad Saw). Sedang untuk mengetahui dalil
itu perlu bertanya kepada ahlinya. Sesuai dengan perintah Allah SWT,
فسئلوا أهل الذكرإن كنتم لا تعلمون
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu
tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43)
Maka akal harus
tunduk kepada dalil. Untuk tunduk kepada dalil itu akal harus diisi dengan cara
bertanya kepada ahlinya atau belajar. Tanpa itu, maka bisa tercebur kepada
kesalahan.
Kita setiap sholat
bahkan setiap satu rakaat diwajibkan membaca Al-Fathihah yang akhir ayatnya
adalah agar dihindarkan dari jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan
orang-orang yang sesat. Untuk bisa mencapai kearah pembedaan antara paham yang
benar dengan paham yang sesat itu tentu harus melalui proses pengisian akal
dengan ilmu yang benar, sehingga cara berfikir kita menjadi benar pula.
DAFTAR PUSTAKA
Jaiz, Hartono Ahmad.2002.Aliran
dan Paham Sesat di Indonesia.Jakarta:Pustaka Al-Kutsar
Al-Madkhali, Rabi’ bin Hadi
Umair.2004.Manhaj Ahlussunnah dalam Mengkritik, Tokoh, Kitab, dan Aliran.Jakarta:Najla
Press
Al-Wushoby, Asy Syaikh Muhammad bin
‘Abdul Wahhad.2005.Al-Qoulul Mufid Penjelasan Tentang Tauhid.Ngaglik
Sleman:Darul ‘Ilmi
4 comments:
Banyak sebenarnya sumber yang valid mengenai Agama Bahai, terutama jika penulis memahami bahasa inggris. Tetapi sayangnya penulis memilih sumber yang bukan resmi dari agama bahai, jadi isinya menjelek-jelekkan agama bahai. Agama Bahai jelas bukan merupakan bagian atau sekte dari agama manapun termasuk islam, jadi tidak relevan jika mengukur sesat dari agama islam. Coba pikirkan jika islam diukur dengan ayat-ayat kristen, apa jadinya?
Saya yakin jika penulis mau mengambil salah satu sumber resmi agama bahai, misalnya www.bahaiindonesia.org, www.bahai.org, tentu tulisan ini akan lebih berbobot dan tidak sekedar tulisan ngawur yang prejudice
Akui saja yang nulis di atasku ini orang Bahai.
belajarlah untuk selalu open minded, positive thinking, never give up, dan seterusnya. :)
Sesuai tema dari blog ini, sy suka.
Untuk komentator November 29, 2012 at 4:35 PM,
Benar sekali, saya yang nulis komen diatasmu. Dan saya bangga menganut Agama Baha'i.
Saya tidak sembunyi dan takut2 menyatakan diri kok, terutama di dunia maya kayak gini ...
Dan saya gak tahu, kamu dari golongan ap?
Kalau ingin tahu profil lengkapku, mampir saja di webpageku, ... www.cahaya.org
Udh sesat, bangga. Apaan yang mau dibanggain?? Kesesatan situ??
Jalanin yg lurus2 aja. Yg kaya gini mesti dibuang, ini agama buatan manusia. Mikir!!
Post a Comment