Tuesday, May 15, 2012

Agama Baha'i di Indonesia


Entah mengapa, di Indonesia banyak berkembang aliran dan paham yang sesat lagi menyesatkan. Mungkin karena faktor historis yang pernah lekat dengan dunia perklenikan, atau karena pernah dijajah Belanda sekian abad lamanya sehingga meninggalkan jejak kebodohan yang tak kunjung hilang, atau mungkin karena faktor lain yang belum terdeteksi. Yang jelas, hal tersebut membuat rakyat Indonesia banyak yang tidak mau menggunakan akal sehatnya dalam menghadapi berbagai masalah dan lebih suka jalan pintas.
Dengan kondisi masyarakat seperti ini, tumbuh suburlah berbagai paham dan aliran sesat, dari yang berskala lokal hingga internasional. Dan satu hal yang hampir pasti, kebanyakan dari mereka atau bahkan semuanya memakai label yang berbau keislaman.
Sebutlah misalnya, ada aliran Isa Bugis yang menganggap umat Islam sekarang masih dalam periode Makkah. Ada Inkarus sunnah yang tidak mengakui hadits Nabi. Ada Lembaga Kerasulan (LK) yang menganggap bahwa imam mereka adalah rasul saat ini. Ada juga Darul Arqom yang menganggap pemimpin mereka sebagai imam mahdi dan memperoleh wahyu melalui mimpi-mimpi. Ada Ahmadiyah yang menganggap Mirza Ghulam orang Islam di luar kelompok mereka sebagai najis dan kafir. Dan ada pula agama “salamullah” made in Lia Aminuddin, yang mengaku awam agama namun mendapatkan wahyu dari Malaikat Jibril! Padahal yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim adalah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.[1]: menjadikan tujuan pokoknya dengan mentauhidkan Allah dalam beribadah kepada-Nya serta tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, lalu taat pada Rasul-Nya, mengikuti apa saja yang ia ketahui darinya, juga harus mengetahui bahwa makhluk yang paling utama setelah para nabi adalah para sahabat. Dari sini jelaslah bahwa ajaran-ajaran di atas bertentangan dengan ini.
Selain aliran-aliran ada pula paham-paham seperti yang mendakwah sebagai Islam liberal yang menyamaratakan semua agama juga meramaikan bursa kelompok sesat di Tanah Air. Baha’i merupakan salah satu bentuk aliran dan paham sesat yang sampai ada di Indonesia, di mana banyak orang yang tidak tahu apa itu Baha’i. maka disinilah pentingnya penelitian radikal tentang baha’i. Dari uraian di atas, maka penulis ingin memaparkan dan membeberkan seluk-beluk aliran dan paham sesat di Indonesia khusus pada Agama Baha’i dengan judul “Agama Baha’i di Indonesia”. 

B.     Pembahasan
Baha’i, Aliran Sesat Sempalan Syi’ah
            Baha’iyah atau baha’isme ini menyatukan atau menggabungkan agama-agama: Yahudi, Nasrani, Islam dan lainnya menjadi satu. Hingga aliran ini jelas-jelas dinyatakan sebagai non islam.
            Prof. Dr. M. Abu Zuhroh, ulama Mesir dalam bukunya Tarikh Al-Madzaahibil Islamiyyah fis Siyaasah wal ‘Aqoid menjelaskan secara rinci penyimpangan dan kesesatan Baha’iyah, dan ia nyatakan sebagai aliran bukan Islam, berasal dari Syi’ah Itsna ‘Asyariyah (Syi’ah Imamiyah yang kini berkembang di Iran).
            Pendiri aliran Baha’i ini adalah Mirza Ali Muhammad Asy-Syairazi lahir di Iran 1252 H/1820 M. Ia mengumumkan, tidak percaya pada hari kiamat, surga dan neraka setelah hisab/perhitungan. Dia menyerukan bahwa dirinya adalah potret dari nabi-nabi terdahulu. Tuhan pun menyatu dalam dirinya (hulul). Risalah Muhammad bukan risalah terakhir. Huruf-huruf dan angka-angka mempunyai tuah terutama angka 19. Perempuan mendapat hak yang sama dalam menerima harta waris. Ini berarti dia mengingkari hukum al-Qur’an, padahal mengingkari Al-Qur’an berarti kufur.
            Mirza Ali dibunuh pemerintah Iran tahun 1850, umur 30 tahun. Sebelum mati, Mirza memilih dua muridnya, Sybyh Azal dan Baha’ullah ke Turki. Pengikut Baha’ullah lebih banyak, hingga disebut Baha’iyah atau Baha’isme, dan kadang masih disebut aliran Babiyah, nama yang dipilih pendirinya, Mieza Ali.
            Kemudian kedua tokoh itu bertikai, maka diusir ari Turki. Baha’ullah diusir ke Akka Palestina. Di sana ia memasukkan unsure syirik dan menentang Al-Qur’an dengan mengarang Al-Kitab Al-AAqdas diakui sebagai dari wahyu, mengajak ke agama baru, bukan Islam. Baha’ullah menganggap agamanya universal, semua agama dan ras bersatu di dalamnya.

Ajaran Baha’ullah
1.      Menghilangkan setiap ikatan Agama Islam, menganggap syariat telah kadaluarsa. Maka aliran ini tidak ada kaitan dengan Islam. Persamaan antara manusia meskipun berlainan jenis, warna kulit dan agama. Ini inti ajarannya.
2.      Mengubah peraturan rumah tangga dengan menolak ketentuan-ketebtuan islam. Melarang poligami kecuali bila ada kekecualian. Poligami ini pun tidak diperbolehkan lebih dari dua istri. Melarang talak kecuali terpaksa yang tidak memungkinkan antara kedua pasangan untuk bergaul lagi. Seorang istri yang ditalak tidak perlu iddah (waktu penantian). Janda itu bisa langsung kawin lagi.
3.      Tidak ada sholat jama’ah, yang ada hanya sholat jenazah bersama-sama. Sholat hanya dikerjakan sendiri-sendiri.
4.      Ka’bah bukanlah kiblat yang diakui oleh mereka. Kiblat menurut mereka adalah tempat Baha’ullah tinggal. Karena selama Tuhan menyatu dalam dirinya, maka di situlah kiblat berada. Ini sama dengan pandangan sufi (orang tasawuf) sesat bahwa qolbul mukmin baitullah, hati mukmin itu baitullah.

Berpusat di Chicago
            Masa Baha’ullah berakhir dengan meninggalnya dirinya pada 16 Mei 1892, dilanjutkan anaknya, Abbas Efendy yang bergelar Abdul Baha’ atau Ghunun A’dham (cabang agung). Abbas menguasai budaya Barat. Hingga Abbas cenderung menggunakan kitab-kitab agama Yahudi dan Nasrani.
            Abu Zuhrah menegaskan, “Jika guru pertama (Mirza Ali) padaaliran ini sudah melangkah dalam penghancuran ajaran Islam dengan mengatasnamakan pembaharuan, lalu penerusnya (Baha’ullah) menyempurnakannya dengan mengingkari semua ajaran islam serta menyingkirkannya, dan penerus berikutnya (Abbas Baha’) melangkah lebih jauh dari itu. Dia bahkan mengambil kitab-kitab Yahudi dan Nasrani untuk mengganti Al-Qur’an.”
            Baha’iyah berkembang di Eropa dan Amerika berpusan di Chicago. Aliran ini dinilai Abu Zuhrah sebagai ajaran yang diada-adakan belaka. Mereka menggunakan topeng taqiyah, yaitu cara mengelabui manusia dengan menyembunyikan alirannya, padahal yang terselubung di dalam hatinys adalah usaha untuk mendangkalkan akidah Islam dan menghancurkan ajaran-ajarannya dan menjauhkan dari pemeluknya.
            Yang pasti, lanjut Abu Zahrah, aliran Baha’iyah mempunyai kegiatan pesat di wilayah kaum muslimin di kalamereka diberi kebebasan oleh musuh-musuh Islam, yaitu penjajah. Maka Baha’iyah semakin kuat setelah terjadi Perang Dunia I dan Perang Dunia II.
            Baha’iyah sekarang sedang mengangkat kepalanya, namun tetap harus ditumpas atau dikembsliksn ke daerah pusat kegiatannya, Chicago.”

Persoalan di Indonesia
            Tokoh Baha’i (aliran sempalan Syi’ah Imamiyah di luar Islam), KS 68 tahun, meninggal dunia di Bandung, Senin 2 Syawal 1417 H/10 Februari 1997 M. Meninggalnya tokoh aliran Baha’isme (Baha’iyah) yang di Indonesia telah dilarang sejak 1962 ini menjadikan pemandangan yang tampak unik. Para pelayat yang hadir di sana enjadi dua kubu, menurut penuturan salah seorang yang hadir melayat saat itu. Kubu islam dan kubu Baha’i ada di dalam keluarga mayat itu.
            Mayat yang masuk Baha’i tahun 1957 di Hongkong ini diupacarai secara Baha’i. kepala mayat itu ditolehkan ke kanan. Namun kemudian diputar paksa, diluruskan, oleh salah satu keluarganya yang bukan Baha’i. kepala mayat itu diputar paksa diluruskan hingga berbunyi “krek’.
            Meskipun demikian, para pelayat yang sebagian dari pengikut Baha’i, orang-orang Iran, tampak menyembahyangi mayat ini. Sembahyang mayat itu dengan cara duduk di depan mayat sambil mengangkat-angkat tangan. Dan para pelayat/penta’ziyah yang Baha’i mengatakan, mayat ini mau dikubur di kuburan Islam, Kristen atau lainnya sama saja, boleh-boleh saja.
            Mayat ini, menurut sumber tertentu, adalah ketua Baha’i di Indonesia, bahkan tingkat Asia Tenggara. Dia dulunya seorang diplomat yang bertugas di antaranya di Hongkong, dan ia masuk Baha’i di sana tahun 1957. Sedang Bha’i itu masuk di Indonesia sejak tahun 1953. Menurut Ensiklopedia Umum, Baha’isme dilarang di Indonesia tahun1962 karena ada segi-segi kegiatan mereka yang dianggap tidaksesuai dengan kepribadian Indonesia serta menghambat penyelesaian Revolusi Indonesia.
            Sumber yang hadir dalam upacara mayat tokoh Baha’i di Bandung itu menyebutkan, mayat ini punya hubungan erat dengan seorang tokoh “serem” terkemuka (LBM) non muslim yang dikenal sangat anti Islam, yang pada masa sebelum tahun 1990-an sangat berperan dalam menekan dan menyengsarakan umat Islam dengan berbagai kebijakannya. Dan pengaruhnya masih terasa sampai kini walau menduduki suatu jabatan lagi. Acara-acara tokoh Baha’i ini sering dihadiri tokoh non muslim tersebut.

Baha’i dan Israel
            Baha’ullah, pemimpin Baha’i (internasional) mati tahun 1892, kuburannya di Israel, tepatnya di Akka. Ia mengaku memiliki kitab suci yang diberi nama Al-Aqdas (yang lebih suci). Kepercayaan yang diajarkannya adalah sinkretisme. Kaum Baha’i percaya Al-Bab (sama dengan Baha’ullah) adalah pencipta segala sesuatu dengan kata-katanya. Dalam Baha’i dikenal konsep wahdatul wujud, menyatunya manusia dengan Tuhannya (itu sama dengan kepercayaan sufi sesat yang ditokohi oleh Ibnu Arabi, pen). Mereka juga mempercayai reinkarnasi, keabadian alam semesta. Budha, Konghucu, Zoroaster dan agama lain dianggap sebagai jalan kebenaran. Mereka menakwilkan Al-Qur’an dengan makna batin. Mereka percaya bahwa wahyu akan turun terus Mani dan pertemuannya dengan Islam, Kristen dan Yahudi.
            Secara organisasi, Baha’i berpusat di Haifa, Israel. Baha’i tersebar di 235 negara melalui Baha’i International Community (BIC) yang sejak 1970 memperoleh status resmi sebagai badan penasehat Dewan PBB dalam bidang Sosial Ekonomi (Ecosoc) dan Unicef.
            Ajaran Baha’i ini masuk ke Indonesia sekitar tahun 1878 (sebelum matinya dedengkot Baha’I, Baha’ullah di Israel 1892) melalui Sulawesi yang dibawa dua orang pedagang: Jamal Effend dan Mustafa Rumi. Melihat namanya tentu berasal dari Persia dan Turki. Ia berkunjung ke Batavia, Surabaya dan Bali.
            Baha’i dilarang di Indonesia sejak 15 Agustus 1962. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden No.264/Tahun 1962 yang berisikan pelarangan tujuh organisasi tersebut termasuk Baha’i. kata-kata dibawah surat Keppres tersebut menjelaskan bahwa ajaran dan organisasi-organisasi tersebut termasuk Liga Demokrasi dan Rotary Club, dilarang karena “tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia, penyelesaian revolusi, atau bertentangan dengan cita-cita sosialisme Indonesia”.
            Baha’i, dengan ajaran internasional yakni pusat organisasinya di Israel, sedang pusat kegiatannya di Chicago Amerika, maka imbasnya terhadap para antek Israel tampak nyata pula di Indonesia. Hingga di Indonesia, ada pula alumni Chicago bersama antek-anteknya yang berani mengumandangkan bahwa lelaki muslim menikahi wanita-wanita non muslim, baik itu Hindu, Budha maupun sinto adalah sah. Alasan doktor dari Chicago itu, karena larangan menikahi musyrikat (wanita musyrik, menyekutukan Allah dengan lain-Nya) dalam Al-Qur’an itu hanya musyrikat Arab.
            Imbas ajaran zionis Yahudi. Itu kini ditambah lagi bukti dengan kenyataan bahwa aliran Baha’i memang pusat kegiatannya di Chicago sedang pusat organisasinya di Israel, dan kemudian terbukalah misteri jaringannya ketika tokoh utamanya di Indonesia mati di Bandung, usai Iedul Fitri 1417 H/1997 M.
            Itulah salah satu keberhasilan dari liciknya sistem zionis yang memelihara Baha’i dan aneka aliran yang mempecundangi Islam.
            Kembali kepada persoalan awal, pemahaman Baha’i yang sangat rancu dan merusak Islam, sampai menerapkan kitab Yahudi dan Nasrani untuk mengganti Al-Qur’an pun ditempuh, ternyata di sini ada pula orang-orang yang sepaham dengan itu, yang caranya adalah mengganti hukum dari ayat-ayat dan hadits-hadits dengan pendapatnya sendiri.
            Walhasil, zionis plus Baha’i yang jelas-jelas di masa Soekarno dan Soeharto terlarang di Indonesia, ternyata ada oknum-oknumnya yang secara ideologis sangat mendukungnya. Itulah sebenarnya yang perlu diwaspadai, karena senantiasa akan menghancurkan Islam lewat lembaga dan pemikiran mereka.
            Di samping itu, ada dedengkot yang suka berpikiran nyleneh (aneh-aneh) yang mengadakan upacara do’a bersama antar agama di rumahnya di Ciganjur Jakarta. (tentang haramnya do’a bersama antar agama, agama itu diuraikan ini dalam bab Ruwatan dan do’a bersama antar agama,dalam buku Tasawuf Pluralisme dan Pemurtadan). pada acara do’a bersama antar agama itu muncul pula orang-orang Baha’i di rumah Gus Dur dedengkot nyltneh itu, dan berdialog pula. Dan itu menurut Djohan Efendi (dulu ketua Badan Penelitian dan Pengebangan Agama Departemen Agama, kemudian masa pemerintahan Gus Dur diangkat sebagai sekretaris Negara) sering dilakukan dialog antara orang Baha’i dengan Gus Dur di rumahnya di Ciganjur Jakarta waktu belum jadi presiden.
            Apa yang dikemukakan Djohan itu merupakan salah satu bukti “kecintaan” Gus Dur kepada kepercayaan yang bertentangan dengan Islam. Dan bentuk “kecintaannya” itu dipraktekkan dengan menggunakan aneka cara, lebih-lebih ketia ia memegang kekuasaan. Maka, begitu Gus Dur memegang kepemimpinan nasional sejak Agustus 1999, dia baru-baru meresmikan kepercayaan kemusyrikan yang menyembah tepekong, yaitu Konghucu dan tidak lupa pula meresmikan Baha’i yang dekat dengan misi zionis itu di Bandung.

Di Balik Itu Semua Ada Uniknya
            Konon, begitu aliran Baha’i (sempalan Syi’ah yang mengacak-acak Islam) itu telah diresmikan Gus Dur waktu ia jadi Presiden, maka hari berikutnya muncul pernyataan resmi dari NU (Nahdlatul Ulama) daerah Bandung yang menolaknya. Demikianlah, itu menandakan bahwa mereka berani menentang diresmikannya salah satu tempat yang menjadi sumber penghancuran Islam. Tindakan semacam itu insya Allah akan tetap terjadi, bila pihak penguasa justru menghidup-hidupkan aliran yang merusak Islam.
            Anehnya lagi, ketika pemerintah Indonesia dipegang oleh Soekarno yang diteruskan Soeharto, saat itu aliran Baha’i yang memang merancukan akidah itu memang dilarang. Ini sesuai denganaspirasi umat Islam, mayoritas penduduk negeri ini, walau tujuan pelarangan oleh Soekarno itu bukan karena membela Islam. Sebaliknya, ketika pemerintahan dipegang oleh Gus Dur, seorang yang disebut Kyai Haji, malahan dia resmikan Baha’i (paham sempalan Syi’ah yang sesat), yang mengacak-acak Islam dan pro zionis Yahudi itu. Islam menegaskan untuk berjihad menghadapi kepercayaan batil yang tak sesuai dengan Islam, sedang Gus Dur berada di barisan depan secara bersebarangan dengan perintah Islam itu.
            Apa kerugian Islam? Kerugiannya, sebagian orang terutama para muqallid buta di belakang Kyai itu menganggap, tingkah Kyai yang meresmikan Baha’i itu sesuai dengan Islam, dan menyakiti, namun dianggap kalau mengikuti dan membelanya justru akan mendapatkan tiket surga. Sedangkan orang yang ingin berjuang menegakkan Islam justru dianggap perlu dilawan.

Membekali Akal dengan Ilmu yang Benar-
-yang Benar itu Jelas dan yang Sesat itu Jelas
            Setelah berlalunya zaman, dan hilangnya sebaik-baik masa; tersebarlah berbagai macam bid’ah, yaitu setiap keyakinan, amalan atau lafadz yang diada-adakan setelah wafatnya Nabi Saw dengan niat untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, padahal tidak ada dalil yang menunjukkannya baik dari kitab Sunnah maupun dari perbuatan para pendahulu (yang sholih), serta semakin banyak jenisnya. Maka terjadilah apa yang dikabarkan dan diperingatkan oleh Rasulullah Saw:
افترقت اليهودإلى إحدى وسبعين فرقة,وافترقت النصلرى إلى اثنتين وسبعين فرقة,وستفترق أمتي إلاى ثلاث وسبعين فرقة,كلها في النار إلاواحدةقالوا: من هي يارسول الله؟ قا ل: من كان على ما أنا عليه وأصحابي
Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, kaum Nashrani terpecah menjadi 72 golongan sedangkan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya berada di neraka kecuali hanya satu golongan”. Mereka (para sahabat) bertanya: siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “orang yang mengikuti aku dan para sahabatku”. Dalam lafadh yang lain: “golongan yang satu tersebut adalah Jama’ah (ahlussunnah wal jama’ah)”.[2]
            Para Imam Islam menafsirkan hadits tersebut seperti Bukhari dan imam-iman lainnya bahwa yang dimaksud dengan golongan yang selamat dan golongan yang ditolong adalah mereka ahli hadits dan yang dekat dengan manhaj mereka.
            Itu semua terjadi, karena mereka telah mengisi akal mereka dengan ilmu yang tidak benar, sehingga menghasilkan pemahaman yang tidak benar. Untuk mampu menghindarkan diri dari kesesatan, maka satu jalan yang perlu ditempuh adalah mengisi akal dengan ilmu yang benar, yaitu berdasarkan wahyu. dan cara berfikir yang benar, yaitu memasrahkan akal dihadapan wahyu. Menuntut ilmu agama, khususnya ilmu tentang apa-apa yang jadi kewajiban sebagai hamba Allah adalah fardhu’ain. Setiap orang harus mengetahui kewajiban-kewajibannya dengan benar.
            Fudhail bin Iyadh berkata, “Sesungguhnya amal yang dikerjakan dengan ikhlas tetapi tidak benar itu tidak akan diterima, begitu juga jika amal itu benar namun tidak ikhlas (juga tidak diterima). Ikhlas hendaklah amal itu hanya untuk Allah, dan benar hendaknya tegak berdasarkan sunnah.”
            Amal yang tidak sesuai dengan sunnah, baik itu karena penyelewengan maupun karena kebodohan, maka tidak diterima. Sebab nabi Muhammad Saw bersabda,
من عمل عملا ليس عليه امرنافهورد (مسلم)
Barang siapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada perintah kami atasnya, maka amalnya tertolak” (HR. Muslim)
            Orang yang beramal tanpa ilmu dan orang yang berilmu tetapi nyeleweng adalah dua golongan yang sangat merepotkan. Sulit diaturnya, dan menjadikan lelahnya orang yang mau meluruskannya.
            Lebih jelas lagi bahwa mengetahui atau memahami ilmu agama itu sangat penting untuk terhindar dari kesesatan, bid’ah, khurafat, takhayul dan syirik adalah sabda nabi Muhammad Saw,
من يردالله به خيرايفقهه في الدين
Barang siapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Allah pahamkan dia dalam ilmu agama.” (HR. Al-Bukhari)
            Kebaikan di situ berarti lawan dari keburukan. Sedang keburukan yang merusak agama di antaranya adalah kesesatan-kesesatan. Dan kesesatan itulah yang diberantas oleh ilmu dien, karena ilmu dien adalah warisan para nabi. Sehingga para pemilik ilmu dien, yaitu ulama adalah pewaris para nabi. Keutamaan ulama itu dijelaskan oleh nabi,
فضل العالم على العا بدكفضل القمرعل النجوم العلماء ورثه الأنبياء, والأنبياء لم يورثوا دينا را ولا درهما وانما ورثوا العلم فمن أخذه أخذبحظ وافر (الترمذي)
“Keutamaan seorang alim (berilmu agama) atas seorang ‘abid (ahli ibadah) seperti keutamaan rembulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya ulama itu pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu (agama), maka barang siapa mengambilnya maka dia telah mengambil keuntungan yang banyak.” (HR. At-Tirmidzi)
            Sebaliknya, kalu manusia sudah mengangkat orang-orang yang jahil/bodoh sebagai pemimpinnya, maka yang terjai adalah sesat menyesatkan. Karena masalah sesat dan tidaknya satu keyakinan itu sifatnya bukan murni keputusan akal, bahwa sebenarnya akal itu hanya perlu pasrah kepada dalil nash (ayat Al-Qur’an dan hadits nabi Muhammad Saw). Sedang untuk mengetahui dalil itu perlu bertanya kepada ahlinya. Sesuai dengan perintah Allah SWT,
فسئلوا أهل الذكرإن كنتم لا تعلمون
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43)
            Maka akal harus tunduk kepada dalil. Untuk tunduk kepada dalil itu akal harus diisi dengan cara bertanya kepada ahlinya atau belajar. Tanpa itu, maka bisa tercebur kepada kesalahan.
            Kita setiap sholat bahkan setiap satu rakaat diwajibkan membaca Al-Fathihah yang akhir ayatnya adalah agar dihindarkan dari jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang sesat. Untuk bisa mencapai kearah pembedaan antara paham yang benar dengan paham yang sesat itu tentu harus melalui proses pengisian akal dengan ilmu yang benar, sehingga cara berfikir kita menjadi benar pula.



DAFTAR PUSTAKA

Jaiz, Hartono Ahmad.2002.Aliran dan Paham Sesat di Indonesia.Jakarta:Pustaka Al-Kutsar

Al-Madkhali, Rabi’ bin Hadi Umair.2004.Manhaj Ahlussunnah dalam Mengkritik, Tokoh, Kitab, dan Aliran.Jakarta:Najla Press

Al-Wushoby, Asy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhad.2005.Al-Qoulul Mufid Penjelasan Tentang Tauhid.Ngaglik Sleman:Darul ‘Ilmi


[1] Asy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab al-Wushobiy, Al-Qoulul Mufid penjelasan tentang Tauhid (Ngaglik Sleman, 2005), hlm. 34.
[2] Dr. Rabi’ bin Hadi Umair Al-Madkhali, Manhaj Ahlussunnah dalam Mengkritik Tokoh, Kitab dan Aliran (Jakarta, 2004), hlm.28.

4 comments:

Anonymous said...

Banyak sebenarnya sumber yang valid mengenai Agama Bahai, terutama jika penulis memahami bahasa inggris. Tetapi sayangnya penulis memilih sumber yang bukan resmi dari agama bahai, jadi isinya menjelek-jelekkan agama bahai. Agama Bahai jelas bukan merupakan bagian atau sekte dari agama manapun termasuk islam, jadi tidak relevan jika mengukur sesat dari agama islam. Coba pikirkan jika islam diukur dengan ayat-ayat kristen, apa jadinya?
Saya yakin jika penulis mau mengambil salah satu sumber resmi agama bahai, misalnya www.bahaiindonesia.org, www.bahai.org, tentu tulisan ini akan lebih berbobot dan tidak sekedar tulisan ngawur yang prejudice

Anonymous said...

Akui saja yang nulis di atasku ini orang Bahai.

Super_Cahaya said...

belajarlah untuk selalu open minded, positive thinking, never give up, dan seterusnya. :)

Sesuai tema dari blog ini, sy suka.
Untuk komentator November 29, 2012 at 4:35 PM,
Benar sekali, saya yang nulis komen diatasmu. Dan saya bangga menganut Agama Baha'i.
Saya tidak sembunyi dan takut2 menyatakan diri kok, terutama di dunia maya kayak gini ...

Dan saya gak tahu, kamu dari golongan ap?

Kalau ingin tahu profil lengkapku, mampir saja di webpageku, ... www.cahaya.org

Anonymous said...

Udh sesat, bangga. Apaan yang mau dibanggain?? Kesesatan situ??
Jalanin yg lurus2 aja. Yg kaya gini mesti dibuang, ini agama buatan manusia. Mikir!!