Pada pemikiran awam, sering ketika
mendengar istilah sesat pikir dipahami sesuatu yang mengerikan karena segera
dijumbuhkan dengan kekacauan. Naun dalam pandangan logika, sesat pikir itu bisa
terjadi karena dalam penarikan kesimpulan terdapat kaidah-kaidah logis yang
dilanggar, hal itu kemudian akan membawa kepada suatu kesimpulan yang sesat.
Sesat piker (fallacy) dalam
pandangan logika berarti sebuah kesalahan logika. Terdapat sesat piker yang
yang akhir-akhir ini sedang menggejala di Indonesia, yaitu sesat pikir Tu
Quoque yang arti gaulnya, “lu juga begitu”.
Dua orang yang sama-sama punya kesalahan, tidak akan menuding kesalahan orang lain. Hal demikian terjadi karena yang bersangkutan pernah juga berbuat salah untuk urusan yang berbeda. Keengganan ini terjadi karena adanya rasa takut bahwa orang itu juga akan mengungkit kesalahan-kesalahannya. Cara mudah untuk mengalihkan perhatian, ialah dengan menyerang balik kesalahan orang lain. Dengan demikian berharap kesalahannya tersebut bukan lagi kesalahan. Dengan demikian berlaku motto “tak ada kesalahan jika orang lain juga berbuat salah” hal demikian dianggap sebagai logika yang shohih.
Dua orang yang sama-sama punya kesalahan, tidak akan menuding kesalahan orang lain. Hal demikian terjadi karena yang bersangkutan pernah juga berbuat salah untuk urusan yang berbeda. Keengganan ini terjadi karena adanya rasa takut bahwa orang itu juga akan mengungkit kesalahan-kesalahannya. Cara mudah untuk mengalihkan perhatian, ialah dengan menyerang balik kesalahan orang lain. Dengan demikian berharap kesalahannya tersebut bukan lagi kesalahan. Dengan demikian berlaku motto “tak ada kesalahan jika orang lain juga berbuat salah” hal demikian dianggap sebagai logika yang shohih.
Vloemans mendata empat keadaan seseorang dapat terjebak pada sesat pikir, diantara yang pertama adalah karena keadaan kurang tahu. Dari keadaan ini, teringat sebuah intro “Bagaimana kita tahu dan bagaimana kita tahu kalau kita tahu”
dari sedikit cerita tentang Munchhausen
Trilemma. Ya, kalimat di awal tulisan ini adalah contoh dari regressus
ad infinitum yang merupakan salah satu dari Munchhausen Trilemma
alias insoluble trilemma. Munchhausen Trilemma adalah tiga hal
yang menjadi penyebab tidak mungkin-nya dilakukan pembuktian the true truth
atau kebenaran sejati dari suatu hal, baik secara logika-matematika atau
metode lain. Adapun ketiga Munchhausen Trilemma alias insoluble
trilemma tersebut adalah:
1.
Dogmatism
2.
Regressus ad infinitum (infinite regression)
3.
Petitio Principii
Berangkat dari sesat pikir Tu
Quoque dan keadaan kurang tahunya tadi, hal ini berdekatan dengan petitio principii.
Perlu kiranya kita mempelajari kesesatan guna untuk menghindari
kesesatan pikir itu sendiri dalam hal mengambil kesimpulan. Di sinilah pentingnya kita memahami secara
radikal tentang kesesatan pikir dengan judul “Pembuktian Petitio Principii”
KESESATAN
Kesesatan
adalah kesalahan yang terjadi dalam aktfitas berpikir dikarenakan menyalah
gunakan bahasa dan atau menyalah gunakan relevansi. Pada dasarnya, logika
diajarkan untuk menghindari kesesatan berpikir seseorang, agar dia tidak keliru
dalam mengambil sebuah kesimpulan dari beberapa proposisi.
Dalam ilmu logika telah dijabarkan
beberapa macam kesesatan yang meskinya kita hindari sebisa mungkin, diantarnya
adalah :
a.
Kesesatan
Bahasa
Setiap
kata dalam bahasa memiliki arti tersendiri, dan masing-masing kata dalam sebuah
kalimat mempunyai arti yang sesuai dengan keseluruhan arti kalimatnya
b.
Kesesatan
Amfiboli
Kesesatan
Amfiboli (gramatikal) adalah kesesatan yang dikarenakan konstruksi kalimat
sedemikian rupa sehingga artinya menjadi bercabang. Ini dikarenakan letak
sebuah kata atau term tertentu dalam konteks kalimatnya. Akibatnya timbul
lebih dari satu penafsiran mengenai maknanya, padalahal hanya satu saja makna
yang benar sementara makna yang lain pasti salah
c.
Kesesatan
Metaforis
Disebut
juga (fallacy of metaphorization) adalah kesesatan yang terjadi karena
pencampur-adukkan arti kiasan dan arti sebenarnya. Artinya terdapat unsur persamaan
dan sekaligus perbedaan antara kedua arti tersebut. Tetapi bila dalam suatu penalaran arti kiasan disamakan dengan arti sebenarnya maka terjadilah
kesesatan metaforis, yang dikenal juga kesesatan karena analogi palsu
d.
Kesesatan
Relevansi
Kesesatan Relevansi adalah sesat pikir yang terjadi karena
argumentasi yang diberikan tidak tertuju kepada persoalan yang sesungguhnya
tetapi terarah kepada kondisi pribadi dan karakteristik personal seseorang (lawan
bicara) yang sebenarnya tidak relevan untuk kebenaran atau kekeliruan isi
argumennya.
Kesesatan ini timbul apabila orang menarik kesimpulan yang tidak
relevan dengan premis nya. Artinya secara logis kesimpulan tersebut tidak terkandung dalam/ atau tidak merupakan
implikasi dari premisnya.
Jadi
penalaran yang mengandung kesesatan relevansi tidak menampakkan adanya hubungan
logis antara premis dan kesimpulan, walaupun secara psikologis menampakkan
adanya hubungan - namun kesan akan adannya hubungan secara psikologis ini
sering kali membuat orang terkecoh.
Petitio principii termasuk ke dalam kesesatan relevansi
Petitio principii sering juga disebut sebagai circular argument, yaitu dimana
pengambilan kesimpulan dari suatu argumen hanya didasarkan pada satu premis
saja. Pada petitio
principii biasanya bukti pendukung (dalam pengambilan kesimpulan)
sebenarnya hanyalah pernyataan ulang dari argumen awal.
Nama lain
untuk ini adalah Begging the question. Kesalahan ini terjadi karena orang tidak
membuktikan sesuatu yang harus dibuktikan. Petitio principii adalah kesalahan/kesesatan berpikir dimana seorang pembicara
menggunakan suatu bentuk susunan kata-kata (fraselogi) untuk menyembunyikan
suatu premis kunci yang mungkin tidak didukung dengan fakta-fakta yang jelas. Jadi, apa yang harus dibuktikan
(konklusi) digunakan sebagai premis. Dalam banyak hal terjadi penalaran yang
melingkar, sehingga terjadi circulus vitiosus (lingkaran setan). Lingkaran
setan merupakan ini merupakan
sebuah kesesatan/kesalahan berpikir dimana seseorang yang mengambil konklusi dari sebuah
pernyataan dapat atau aan kembali lagi pada pernyataan yang sebelumnya,
sehingga mengakibatkan /terbentuk sebuah lingkaran dan tidak akan ada ujung
pangkalnya.
Contoh:
Seorang guru bertanya kepada siswa mengapa lampu di kelas tiba-tiba
mati. Dan siswa itu menjawab karena lampu tidak menyala. Bukankah mati berarti
tidak menyala? Sang guru mungkin bertanya terus: mengapa lampu tidak menyala?
Dan siswa itu menjawab lagi: karena lampu itu belum hidup lagi. Guru, yang mulai
kesal bertanya lagi: mengapa lampu itu belum hidup lagi? Dan murid itu
menjawab: karena lampu itu tidak memberikan cahaya. Dan guru itu, yang marah karena
merasa dipermainkan murid, bertanya: mengapa lampu yang mati itu tidak menyala
dan belum hidup lagi dan tidak memberikan cahaya?
Begitulah kesesatan petition principii.
Jadi, Petitio principii: berarti
mengajukan pertanyaan dengan mengamsusikan kebenaran dari apa yang berusaha
untuk dibuktikan, dalam upaya untuk membuktikannya. Dikenal dengan pernyataan
berupa pengulangan prinsip dengan prinsip. Kesesatan model ini terjadi ketika
seseorang memulai dari kesimpulan. Artinya kesimpulannya suda diketahui dulu
baru menunjuk atau mengolah premis-premisnya kemudian. Sehingga kesesatan ini
agar bisa tersembunyi sering dibuat secara memutar seperti contoh di atas.
Contoh lagi, misalnya pembunuhan adalah perbuatan yang secara moral salah.
Inilah masalahnya, yaitu bahwa aborsi adalah perbuatan yang secara moral salah.
Maka argument ini akan mengundang pertanyaan: “bagaimana anda mengetahui bahwa
aborsi adalah suatu bentuk pembunuhan?” pertanyaan ini relasi dengan keadaan
kurang tahunya, maksudnya yaitu kesalahan/kesesatan berpikir dimana seseorang
yang menganggap pangkal berpikir adalah pangkal konklusi, padahal belum tentu
kebenarannya, jadi minta bukti dulu atas kebenarannya tersebut.
Secara informsl, bukti adalah cara
untuk meyakinkan bahwa kesimpulan yang diperoleh benar-benar didasarkan pada
premis-premis yang diberikan, atau bahwa kesimpulan harus benar apabila
premis-premis benar. Secara formal, bukti adalah daftar pernyataan, biasanya
dimulai dari premis-premis, dengan pernyataan-pernyataan yang mendahuluinya
benar. Khususnya, kebenaran pernyataan terakhir, yakni kesimpulan, harus
didasarkan kebenaran pernyataan-pernyataan yang mendahuluinya.
Beberapa metode yang bisa kita
lakukan untuk membuktikannya. Diantaranya :
a.
Pembuktian
Ad Hominem
Pembuktian kesesatan ini biasanya digunakan oleh lawan atau
menggunakan sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh lawan. Pembuktian ini
disebut juga senjata makan tuan, karena pembuktian lawan digunakan untuk
menyalahkan pernyataan lawan.
b.
Pembuktian
Instantia
Ini merupakan pembuktian dengan cara mengajukan sebagian hal dapat
mendesak kesimpulan lawan.
c.
Pembuktian
Inversio
Ini adalah pembuktian dengan cara menggunakan term tengah yang
dipakai oleh lawan sebagai alasan pembuktian.
D.
Daftar Pustaka
S.Fil,
Wagiman.2009.Pengantar Studi Logika.Yogyakarta:Pustaka book Publisher
Raga
Maran, Rafael. 2007.Pengantar Logika.Jakarta:P.T Grasindo
Yunus,
Mahmud.2007.Logika Suatu Pengantar.Yogyakarta: Graha Ilmu
No comments:
Post a Comment