Monday, December 3, 2012

Petitio Principii


Pada pemikiran awam, sering ketika mendengar istilah sesat pikir dipahami sesuatu yang mengerikan karena segera dijumbuhkan dengan kekacauan. Naun dalam pandangan logika, sesat pikir itu bisa terjadi karena dalam penarikan kesimpulan terdapat kaidah-kaidah logis yang dilanggar, hal itu kemudian akan membawa kepada suatu kesimpulan yang sesat.
Sesat piker (fallacy) dalam pandangan logika berarti sebuah kesalahan logika. Terdapat sesat piker yang yang akhir-akhir ini sedang menggejala di Indonesia, yaitu sesat pikir Tu Quoque yang arti gaulnya, “lu juga begitu”.
Dua orang yang sama-sama punya kesalahan, tidak akan menuding kesalahan orang lain. Hal demikian terjadi karena yang bersangkutan pernah juga berbuat salah untuk urusan yang berbeda. Keengganan ini terjadi karena adanya rasa takut bahwa orang itu juga akan mengungkit kesalahan-kesalahannya. Cara mudah untuk mengalihkan perhatian, ialah dengan menyerang balik kesalahan orang lain. Dengan demikian berharap kesalahannya tersebut bukan lagi kesalahan. Dengan demikian berlaku motto “tak ada kesalahan jika orang lain juga berbuat salah” hal demikian dianggap sebagai logika yang shohih.

Vloemans mendata empat keadaan seseorang dapat terjebak pada sesat pikir, diantara yang pertama adalah karena keadaan kurang tahu. Dari keadaan ini, teringat sebuah intro Bagaimana kita tahu dan bagaimana kita tahu kalau kita tahu”

 dari sedikit cerita tentang Munchhausen Trilemma. Ya, kalimat di awal tulisan ini adalah contoh dari regressus ad infinitum yang merupakan salah satu dari Munchhausen Trilemma alias insoluble trilemma. Munchhausen Trilemma adalah tiga hal yang menjadi penyebab tidak mungkin-nya dilakukan pembuktian the true truth atau kebenaran sejati dari suatu hal, baik secara logika-matematika atau metode lain. Adapun ketiga Munchhausen Trilemma alias insoluble trilemma tersebut adalah:
1.                  Dogmatism
2.                  Regressus ad infinitum (infinite regression)
3.                  Petitio Principii
Berangkat dari sesat pikir Tu Quoque dan keadaan kurang tahunya tadi, hal ini berdekatan dengan petitio principii. Perlu kiranya kita mempelajari kesesatan guna untuk menghindari kesesatan pikir itu sendiri dalam hal mengambil kesimpulan.  Di sinilah pentingnya kita memahami secara radikal tentang kesesatan pikir dengan judul “Pembuktian Petitio Principii


KESESATAN
Kesesatan adalah kesalahan yang terjadi dalam aktfitas berpikir dikarenakan menyalah gunakan bahasa dan atau menyalah gunakan relevansi. Pada dasarnya, logika diajarkan untuk menghindari kesesatan berpikir seseorang, agar dia tidak keliru dalam mengambil sebuah kesimpulan dari beberapa proposisi.
Dalam ilmu logika telah dijabarkan beberapa macam kesesatan yang meskinya kita hindari sebisa mungkin, diantarnya adalah :
a.       Kesesatan Bahasa
Setiap kata dalam bahasa memiliki arti tersendiri, dan masing-masing kata dalam sebuah kalimat mempunyai arti yang sesuai dengan keseluruhan arti kalimatnya
b.      Kesesatan Amfiboli
Kesesatan Amfiboli (gramatikal) adalah kesesatan yang dikarenakan konstruksi kalimat sedemikian rupa sehingga artinya menjadi bercabang. Ini dikarenakan letak sebuah kata atau term tertentu dalam konteks kalimatnya. Akibatnya timbul lebih dari satu penafsiran mengenai maknanya, padalahal hanya satu saja makna yang benar sementara makna yang lain pasti salah
c.       Kesesatan Metaforis
Disebut juga (fallacy of metaphorization) adalah kesesatan yang terjadi karena pencampur-adukkan arti kiasan dan arti sebenarnya. Artinya terdapat unsur persamaan dan sekaligus perbedaan antara kedua arti tersebut. Tetapi bila dalam suatu penalaran arti kiasan disamakan dengan arti sebenarnya maka terjadilah kesesatan metaforis, yang dikenal juga kesesatan karena analogi palsu
d.      Kesesatan Relevansi
Kesesatan Relevansi adalah sesat pikir yang terjadi karena argumentasi yang diberikan tidak tertuju kepada persoalan yang sesungguhnya tetapi terarah kepada kondisi pribadi dan karakteristik personal seseorang (lawan bicara) yang sebenarnya tidak relevan untuk kebenaran atau kekeliruan isi argumennya.
Kesesatan ini timbul apabila orang menarik kesimpulan yang tidak relevan dengan premis nya. Artinya secara logis kesimpulan tersebut tidak terkandung dalam/ atau tidak merupakan implikasi dari premisnya.
Jadi penalaran yang mengandung kesesatan relevansi tidak menampakkan adanya hubungan logis antara premis dan kesimpulan, walaupun secara psikologis menampakkan adanya hubungan - namun kesan akan adannya hubungan secara psikologis ini sering kali membuat orang terkecoh.
Petitio principii termasuk ke dalam kesesatan relevansi
            Petitio principii sering juga disebut sebagai circular argument, yaitu dimana pengambilan kesimpulan dari suatu argumen hanya didasarkan pada satu premis saja. Pada petitio principii biasanya bukti pendukung (dalam pengambilan kesimpulan) sebenarnya hanyalah pernyataan ulang dari argumen awal.
Nama lain untuk ini adalah Begging the question. Kesalahan ini terjadi karena orang tidak membuktikan sesuatu yang harus dibuktikan. Petitio principii adalah kesalahan/kesesatan berpikir dimana seorang pembicara menggunakan suatu bentuk susunan kata-kata (fraselogi) untuk menyembunyikan suatu premis kunci yang mungkin tidak didukung dengan fakta-fakta yang jelas. Jadi, apa yang harus dibuktikan (konklusi) digunakan sebagai premis. Dalam banyak hal terjadi penalaran yang melingkar, sehingga terjadi circulus vitiosus (lingkaran setan). Lingkaran setan merupakan ini merupakan sebuah kesesatan/kesalahan berpikir dimana seseorang  yang mengambil konklusi dari sebuah pernyataan dapat atau aan kembali lagi pada pernyataan yang sebelumnya, sehingga mengakibatkan /terbentuk sebuah lingkaran dan tidak akan ada ujung pangkalnya.
Contoh:
Seorang guru bertanya kepada siswa mengapa lampu di kelas tiba-tiba mati. Dan siswa itu menjawab karena lampu tidak menyala. Bukankah mati berarti tidak menyala? Sang guru mungkin bertanya terus: mengapa lampu tidak menyala? Dan siswa itu menjawab lagi: karena lampu itu belum hidup lagi. Guru, yang mulai kesal bertanya lagi: mengapa lampu itu belum hidup lagi? Dan murid itu menjawab: karena lampu itu tidak memberikan cahaya. Dan guru itu, yang marah karena merasa dipermainkan murid, bertanya: mengapa lampu yang mati itu tidak menyala dan belum hidup lagi dan tidak memberikan cahaya?
Begitulah kesesatan petition principii.
Jadi, Petitio principii: berarti mengajukan pertanyaan dengan mengamsusikan kebenaran dari apa yang berusaha untuk dibuktikan, dalam upaya untuk membuktikannya. Dikenal dengan pernyataan berupa pengulangan prinsip dengan prinsip. Kesesatan model ini terjadi ketika seseorang memulai dari kesimpulan. Artinya kesimpulannya suda diketahui dulu baru menunjuk atau mengolah premis-premisnya kemudian. Sehingga kesesatan ini agar bisa tersembunyi sering dibuat secara memutar seperti contoh di atas. Contoh lagi, misalnya pembunuhan adalah perbuatan yang secara moral salah. Inilah masalahnya, yaitu bahwa aborsi adalah perbuatan yang secara moral salah. Maka argument ini akan mengundang pertanyaan: “bagaimana anda mengetahui bahwa aborsi adalah suatu bentuk pembunuhan?” pertanyaan ini relasi dengan keadaan kurang tahunya, maksudnya yaitu kesalahan/kesesatan berpikir dimana seseorang yang menganggap pangkal berpikir adalah pangkal konklusi, padahal belum tentu kebenarannya, jadi minta bukti dulu atas kebenarannya tersebut.
Secara informsl, bukti adalah cara untuk meyakinkan bahwa kesimpulan yang diperoleh benar-benar didasarkan pada premis-premis yang diberikan, atau bahwa kesimpulan harus benar apabila premis-premis benar. Secara formal, bukti adalah daftar pernyataan, biasanya dimulai dari premis-premis, dengan pernyataan-pernyataan yang mendahuluinya benar. Khususnya, kebenaran pernyataan terakhir, yakni kesimpulan, harus didasarkan kebenaran pernyataan-pernyataan yang mendahuluinya.
Beberapa metode yang bisa kita lakukan untuk membuktikannya. Diantaranya :
a.       Pembuktian Ad Hominem
Pembuktian kesesatan ini biasanya digunakan oleh lawan atau menggunakan sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh lawan. Pembuktian ini disebut juga senjata makan tuan, karena pembuktian lawan digunakan untuk menyalahkan pernyataan lawan.
b.      Pembuktian Instantia
Ini merupakan pembuktian dengan cara mengajukan sebagian hal dapat mendesak kesimpulan lawan.
c.       Pembuktian Inversio
Ini adalah pembuktian dengan cara menggunakan term tengah yang dipakai oleh lawan sebagai alasan pembuktian.



D.    Daftar Pustaka
S.Fil, Wagiman.2009.Pengantar Studi Logika.Yogyakarta:Pustaka book Publisher
Raga Maran, Rafael. 2007.Pengantar Logika.Jakarta:P.T Grasindo
Yunus, Mahmud.2007.Logika Suatu Pengantar.Yogyakarta: Graha Ilmu




             

No comments: